09 August 2017

Empat Itu Gadis

waktu itu begitu panas dan kita sedang duduk-duduk di bawah pohon rindang, ada sebuah tempat duduk panjang depan kelas yang terbuat dari beton dan keramik, di sanalah cerita ini berawal,  sejujurnya ini sudah cukup lama nyaris seperti legenda kisah ini, bermula dari pembicaraan tidak jelas antara aku dan teman satu kelas ku mas Roh namanya, hari itu hari jumat pastinya setelah sholat jumat kejadiannya selagi asik kami bercerita prihal sesuatu yang sekarang aku lupa,
"tadi kita lagi ngomongin apa ya?"
tibalah keempatnya muncul dari sudut parkiran dan langsung memotong semua pembicaraan.
"Halo Pak Ketu, halo Mas Roh ?" seperti itu triak histeris salah satu gadis yang baru datang. dia masih menggendong ransel ungunya saat itu.
"kamu pasti gak bakal percaya, barusan kita dari mana?" sahut gadis yang lain, yang satu ini mahasiswa transfer paling senior di kelas
"kenapa kalian habis dari borobudurkan( nama salah satu mall di Pekalongan)?" tanyaku menebak,
sebetulnya itu tidak sepenuhnya tebakan melainkan sebelum waktu jumatan tadi tiba mereka memeng berpamitan mau ke Borobudur untuk beli tas atau kudung atau apa lah gue gak peduli.
"haheheaha........." dijawab tawa malu sepontan dari dua gadis yang lain, nampak mereka baru saja ingat kejadian tadi.
aku masih gak tahu apa yang salah dari jawaban ku tadi
"kenapa, emang salah....?"
"tadi itu ya si Tresi(nama gadis berransel ungu)..." belum selesai gadis berjilbab oriental  itu bicara tawa telah memenuhi mulutnya.
aku hanya mengerutkan kening sambil berexpresi penuh tanya.
" tadi itu kita kan habis dari borobudur terus...." gadis tingi berjilbab  yang lain coba menjelaskan dengan serius meski berakhir dengan tawa geli di wajahnya.
"SssssUuuuTttttt..." si gadis ransel ungu mencegah mereka berkata lebih lanjut
"tado itu ya setelah dari borobudur kan kita beli Mi Ayam, terus..." tutur gadis transfer
"Salah...?" putusku
"bukan bukan salah." gadis wajah oriental menyangkal plus gelengan kepala.
"terus ... tumpah gitu minya?" Mas Roh coba menimpali
"gak gitu,..." si gadis tinggi melambaikan tangganya tanda bukan seperti itu
muka gadis ransel ungu mulai memerah
" taditu setelah selesai makan Mi ayam, terus kan kita bayar sendiri sendiri, lah Tresi yang  terakhir...." menjelaskan dengan nada panjang di setiap akhir kalimat.
"Terus...?" tanyaku makin penasaran
" kan habisnya 15 ribu, terus si tresi nawar." sambung gadis berwajah oriental dengan manisnya seakan tak berdosa
aku mulai tak percaya dengan yang ku dengar, kerutan alis tanda tak percaya penuh heran makin menjadi di wajah ku dan Mas Roh.
"terus pas di parkiran kan bayar parkir, ditawar juga sama dia" jelas gadis yang tinggi.
" Ya. biar si aku kan anak akuntansi ..."sombing menutupi malunya si gadis ransel ungu dan didebat oleh ketiga temanya
" memang ada yang nawar mi Ayam....."
" apa hubunganya sama nawar mi Ayam...."
"Aku sebagai temanmu malu..."
"kamu itu ya..."
dan semua cacian itu berakhir dengan penyesalan ku mendengarkan cerita mereka dasar para gadis ribet sendiri.dan mas Roh pun berfikir hal yang sama.


Salam Ngeliker Gan

Baca Juga !