26 August 2018

SMA

kau seperti kertas putih
bersih dan putih
polos dan apa adanya
gambaran mimpi dan harapan

jika di ibaratkan
kau seperti kertas putih
kau akan jadi seperti apa yang tertulis
andai digambar..
kau jadi lukisan karya seni
jika ditulis kata..
kau akan jadi sajak penuh ilmu cinta
kalau diisi angka...
kau akan jadi rumus matematika

kau seperti kertas putih
jika dicoret dan tersobek
kau kan terjerumus dan bernoda
rusak..?
jika dilipat dan dirangkai
kau jadi origami nan indah bermakna

kau seperti kertas putih
kertas putih punya kehendak!
tetap bersampul seperti adanya
seperti yang kau mau.

26 /agustus
    /2018 y.n.widyatno

judul asli Ayu

17 August 2018

sekedar pemikiran

suatu pagi aku pernah terbangun begitu saja tanpa pemikiran dan ku biarkan itu selama beberapa waktu mungkin seminggu atau setahun, semua rasa kalut yang ada di kepala ku biarkan begitu saja tak pernah ku ungkapkan ke siapa pun karena menurut ku percuma, suatu ketika saat rasa jenuh itu datang lebih dari yang bisa aku rasakan sekarang semua telah menjadi jauh lebih aneh lagi, tanpa ku sadari mungkin aku telah kehilangan segalanya dan yang bisa kulakukan kini mungkin hanya meratapinya,
aku bosan meratap, berhenti bermimpi dan berhenti berharap, jika hidup memerlukan semangat dan harapan? jika hidup perlu sebuah tujuan dan ambisi? itu kelamaan. yang penting adalah melakukan, besar kecil baik buruk itu gak penting selama melakukan sesuatu itu hal yang jauh lebih baik karena kita akan selalu memperoleh sesuatu meski itu gak penting.

14 August 2018

Pertaruhan Penuh

Karena Mu Aku melakukan pertaruhan ini
Meski kata-Nya jangan pernah
mengundi nasib dengan anak panah
tapi aku tak peduli

meski kalah telak akan ku menangkan
aku tak peduli
meski ini akan berlangsung selamanya
aku tak peduli
meski harus sakit atau mati karenanya
aku makin tak peduli

Ini pertaruhan penuh Ku
jika aku salah dan keliru
biar kutanggung dosanya

ini pertaruhan penuh Ku
kalau ku menang itu
sudah yakin Ku
kalau Ku kalah maka
Kau adalah kebenaran
yang Ku cari

dalam pertaruhan
Ku mainkan peran ku
dalam pertaruhan
Ku jalani siksa Ku
dalam pertaruhan
Ku nikmati tawa Mu

sedikit demi sedikit aku mulai merasakan permainan
meski tipuan dan kepalsuan yang ada di mata
kadang hati menolak untuk tetap terjaga
sering kali rasa ingin pergi datang menghampiri
tapi ini pertaruhan penuh ku

kalau ini berakhir sekarang atau nanti Aku hancur tak bersisa
sudah terlambat untuk kembali dan tak ada jalan untuk pergi
di pertaruhan penuh ku dan aku tak peduli
suatu hari meski kan ku sesali
kau mungkin jadi milik ku
ketika nanti tak ada sisa dari ku
maka ini telah jadi lebih baik

bila nanti sesal itu
atau nanti marah itu
mungkin juga umpat itu
itu takkan terjadi
ku pastikan itu

karena dalam pertaruhan kecil ku
tak ada rasa bersalah atau keliru
tak peduli apa pun kartu Mu
kemenangan adalah milik ku
meski dengan atau tanpa pertaruhan itu..


13 August 2018

Obrolan Depan Makam


“kalian yakin ni ngajak makan di sini” seorang pemuda menyipitkan matanya dan mengedar sejauh yang ia bisa
“iya kenapa?” dengan tanpa rasa bersalah seorang gadis muda menjawab polos sambil megeluarkan HPnya
“inikan depan makam, kalian ngajak aku makan didepan kuburan” grutu sang pemuda
“udah ah ayo masuk..”ajak gadis muda yang lain tanpa melepas helemnya
“Jho... itu ada tamu..” seorang pria senja berusia 60 tahun yang berdiri di balik meja kasir memangil pemuda yang sedang mencatat pesanan salah seorang tamu kafe
“napa si lo triak-triak” seorang pria yang usianya tak jauh beda sama senjanya, menyahuti dengan grutuan, kepalanya masih tersungkur di depan meja kasir, dia nampak berantakan, sungguh tak pantass dengan usianya
“ha...ha...ha..” tawa yang cukup keras membahana, tapi tak terdengar oleh pengunjung kafe tua itu, lagi pula selain tamu yang sedang dicatat pesananya oleh seorang pelayan, hanya ada pria tua yang tersungkur itu, dan segrombolan remaja yang baru masuk tadi.
“kita mau duduk di mana?” sang pemuda masih mengerutu
“neng ini menunya! catat sendiri saja pesananya biar gampang, nanti bawa sisi lagi ya. Gak papa kan” sapa ramah pria senja yang berdiri di belakang meja kasiar
“siap Kek Lin... santai aja kaya kita gak pernah kesini aja” sahut gadis muda cantik yang masuk paling awal dari rombonganya, di terimanya daftar menu itu dengan tangan kanan sembari tangan kirinya masih mengetik pesan di Hp
“aduh neng pangil Om dong... masak Kakek” senyum tuanya mengembang
“hah..” dengus pria tua yang kepalanya masih tersungkur di meja
“iya-iya Om Lin, tempat yang biasa ya? Ayo ah aku dah lapar” ujar gadis muda yang helemnya masih menempel di kepala. berjalan memimpin yang lainya ke sebuah meja lesehan di pojok ujung terjauh kafe tersebut.
“lo mau pesan apa?  Tre lo yang biasa kan..?” gadis yang memegang daftar menu, mulai menulis pesanan
“aku tambah rotibakar, sama...” dia melepaskan helemnya perlahan dan memperbaiki penampilanya yang ayu
“ni meja gue gabungin aja ya biar longar, rekomendasiin gue menu... terus...”satu satunya pemuda di rombongan itu mengerser-geser meja dengan ribetnya.
“heh... apa lo gak bisa suruh mereka diam atau semacamnya, berisik tahu!” grutu lirih pria senja mengakat sedikit kepalanya dari dasar meja
“ha..ha..ha... lo kira kita dulu waktu muda gak gitu..”tatap sinis bercapur senang dari Kakek Lin yang lebih suka dipangil Om Lin itu.
“mereka dah di sini” seorang pemuda bertanya ke pemudi yang di gandengnya
“kalo kata nya si uduah, paling di tempat biasa.” Sang pemudi clingak-clinguk begitu mereka measuki kafe tua di sebrang makam itu
“ah tu mereka” lambaian tangan sang pemuda pada pemuda lain yang masih mengeser-geser meja
“aku ke sana dulu, pesenin aku ya! kamu tahu apa yang aku suka..” lambaian sang pemudi pada pria pujaannya itu sambil melengan pergi dan betriak girang meminta sambutan para gadis yang lain,
“hah.. Om Lin yang biasa ya..” menyodorkan sebuah kartu plastik ke meja kasiar tanpa melepas pandang dari gadis yang mengisi hatinya.
“baru kelihatan kamu? kalian langeng ya...?” ejek Om Lin sambil menekan beberapa tombol di mesin kasir tua, dan mengembalikan kartu palastik itu setelah digesek tentunya beserta selemabr struk ke sang pemuda, pemuda yang  penampilanya nampak  kelelahan.
“ngobrolnya tar aja Om Lin gue ke sana dulu” memandang lekat ke pria tua di hadapanya sambil menunjuk meja di ujung kafe tempat gadisnya dan teman temannya berkerumun, dia melangkah sambil melirik tipis ke pria yang tersungkur di depan meja kasir.
“dasar itu bocah, itu elo tu jama muda..” pria senaja itu memperbaiki posisi duduknya, menyangga badannya denan sikinya, mukanya suguh tak sedap di pandang
“ha..ha...ha..bisa aja orang tua satu ini” tawa renyah Om Lin membahanan kembali, meski tak ada yang mendengarnya kepalanya melirik ke makam dibelang nya tepat di sebrang kafe yang sudah ia kelola lebih dari 10 tahun itu, tatapan sedih dipelupuk matanya.
“dasar lo kakek tua lo bela-belain beli ni kafe tua yang ampir abruk cuma biar deket sama istrimu aja” sindirnya penuh umpat, sambil meneguk botol yang memang sedari tadi menemaninya.
“eh tukang mabuk, kau fikir kalau buakan karena teman istriku yang di kubur di sebelahnya, lo mau dateng tiap hari ke bangunan reot yang nyaris bangkrut ini hah” Umpat Om Lin tanpa  melapas pandang dari nisan istrinya.
“heh.. ah mereka bertiga dasar...! sapa tu yang satu gue lupa namanya?”  mendorong sedikit botol di hadapanya menjauhinya
“si khel maksudmu?  iya di juga di kubur di sana  8 bulan lau, sayang cuma si Yuu aja yang gak tahu kemana rimbanya sekarang kudegar dia juga dah di kubur di kampungnya.. lo kapan nyusul udah gue siapin satu lubang lagi di sampin cewek lo tu..?” Ujar enteng kakek tua yang juga mulai berbau tanah
“setan lo, gue masih mau idup seribu tahun lagi masih ada yang harus gue kelarin dulu..”
“sumpah tadi lo keren banget ngMC nya di pangung? “puji gadis yang usai menulis menu menyerahkanya ke pelayan yang kebetulan lewat, matanya masih fokus ke layar HP dan mengetikan seuatu dengan kedua ibu jarinya
“aduh-duh..” rintih pemudi yang masih merasakan pijatan lembut dari orang yang katanya bukan pacarnya itu.
“makanya di lurusin kakinya” dengan lembut sang pemuda yang datang paling akhir itu berujar tampa megurangi gerakan tangan di kaki gadis yang ia suka itu
“goe gak negerti sama kalian bilangnya gak pacaran tapi kelauan kalin ini...?” pemuda yang lain masih saja mengerutu
“uah lo fokus aja ama dia!” menunjuk gadis yang masih merapikan penampilanya yang berantakan karena helam
“iya kamu juga gak uasah muji aku, kalo lagi chetingan ama dia, muji tapi kok matanya fokus ke hp” ujar sebal pemudi itu hanya di balas senyuman tanpa tatapan dari gadis yang utag dengan Hpnya
“jadi lo berdua dah sejauh mana bro?” tatap si pemuda tukang pijat pada pemuda dan gadis yang sedang sama-sama salah tingakah itu
“kita gak tahu, noting hapen bro!”saling tatap dengan gadis cantik dihadapanya dan menjawab
“Dasar kunyak, masik kecil udah sok-sokan jatuh cinta, pantes aja dunia makin ancur, apa kau tak bisa mengusir mereka atau semacamnya, mereka mengganggu pelangan mu tahu.” pria tua itu malai hilang sabar saat telinganya mulai merasa bising
“eh dasar tukang mabuk” beralih menatap tajam ke lawan bicaranya”yang mengganggu pelangan ku itu tukang mabuk kaya lo, lagi pula apa kau tak lihat tempat ini, mereka itu salah satu langanan ku” Om Lin membela pelangannya
“ini bos” sang pelayan menyela dan menyerahkan daftar pesanan kepada bosnya
“oh.. cepat kamu buat pesanan ini Jho” ujarnya kepada satu-satunya pelayan di kafe itu
“heh kau lihat kunyuk itu, itu kayak kau dan istrimu dulu, gak tahu otaknya didengkul apa, mau-maunya aja tu bocah jadi babu tu cewek. Kalian berdua sama tololnya”  Mengangkat sedikit jarinya dan mengarahkanya ke pemuda yang sedang memijit kaki pacarnya
“heh jaga bicaramu, namanya juga orang jatuh cinta” Om Lin tersenyum kecut sambil melirik kecil ke figura foto kecil di tepi meja kasirnya, fota dirinya dan sang istri saat mereka belum menikah dulu, masih sangat muda, sorot mata yang masih sangat cerah.
“heh.. cinta.. “ dengus sang pria senja melirik figura  yang sama
“kau lihat mereka, yang cowok dia sudah jadi langananku jauh lebih dulu dari yang lain, hidupnya berat aku sendiri tak terlalu jelas dengan ceritanya, tapi dari caranya bercerita kau akan tahu kalau Ia menjalani hidupnya dengan keras, sementara itu nono manis yang di sana itu yang sedang dipijit oleh tu bocah, kufikir juga sama getirnya, tak banyak yang ku dengar soal nana itu selain dia adalah gadis yang berprestasi, tapi aku selalu melihat senyum kepalsuan itu. Mereka saling melengkapai, dua lidi lebih baik kan dari pada satu, meski nantinya lidi itu akan patah juga” Om Lin menatap nanar dengan mata tuanya
“halah katakan itu pada istrimu, aku tak mau dengar bualanmu” dengus pria tua itu semari menjerembabkan kempali kepalanya ke dasar meja
“kau lihat dua pasang yang lain itu, yang pria baru pertama kali aku melihatnya, sepertinya dia yang sering dibicarakan oleh mereka yang katanya disukai oleh gadis yang tadi masih memakai helam itu. Mirip cerita seseorang saja, bukan kah begitu?” sindirnya ke pria tua di hadapannya
“heh....” makin menengelamkan wajahnya ke dasar meja,
“dasar pak tua, dia sudah lama mati kau masih meratapinya, kau masih merasa bersalah?, setidaknya kau dengarkan aku sedikit” bentaknya sekeras yang tidak bisa didengar pengunjung kafe yang lain
“teruskan saja ceritamu aku mendengarkan”denan kepala masil tertelungkup satu tanganya melambai memberikan isyarat untuk lenjutkan
“kalau aku sering menuping pembicaraan mereka sebelumnya, sepertinya sang peia juga suka pada sang wanita hanya saja dia seperi kau. Lelaki cemen yang gak bisa lepas dari cinta pertamanya”Om Lin melanjutkan ceritanya
“ lanjutkan-lanjutkan aku tak peduli” sambainya lagi sambil tanpa mengankat kepala dan terus ter terjerembab
“eh gimana kabrnya sekarang, kudengar dia sudah setua kita, siapa namanya?” Om Lin membuka luka lama
“sudahlah” akhirnya pria tua itu bangkit berdiri dan “ sudahlah aku harus pergi ada kuburan yang harus aku temui” melengang pergi tanpa pamit atau isyarat
“kenapa dia Kek Lin? O..ya berapa?” tanya seorang gadis yang masih ke layar HP nya
“bukan apa-apa. seperti biasa  hanya ditambah bocah laki-laki itu saja “ menunjuk layat, nomilan yang harus sang gadis bayar.
“O...” menempelkan hapenya ke pemindai pembayaran dan melengang kembali ke sudut terjauh kafe tersebut
“neng sudah berapa kali Om bilang  pangil Om saja jangan Kakek” teriak Om Lin sebelum sang gadis semakin jauh
“hehem..” sutas senyum dilempar ke sang kakek tua di balik meja kasir.
“udah di bayar?” tanya seorang pemudi yang kakinya sudah enakan
“makanan kita sudah aku yang bayar tadi” ujar penuh kasih sang pemuda
“hah apa iya, dah lah ayo pergi?” ujar sang gadis yang baru datang dari meja kasir itu. Sementara kedua muda-mudi yang lain masih canggung
“sampa jumpa lagi Kek Lin..” sapanya berpamitan pada sang penjaga mesin kasir 
"yow... Om Lin, cabut dulu" sang pemuda mengandeng gadisnya
“iya trimakasih neng, terimakasih semua” balas kehagatan Om Lin
“kalian bener bener ngajak makan didepan kuburan” setibanya di luar sang pemuda pengerutu memecah kecanggungannya denan mengedar kan mata ke makam di sebrang cafe.
. . .
“sekarang apa yang mau kau lakukan?” sang kakek pemabuk kembali
“sudah nyekarnya? Entah mungkin aku akan menutupnya begitu aku menyusul istriku. Kau sendiri...?” Om Lin mengedar sunyi ke seisi kafenya dan berakhir di pigura foto di sudut meja kasirnya
“Aku ? ada hal yang harus ku selesaikan, kuburnya kosong, dia masih belum mati...”



11 August 2018

sang Burung Cinta

Dialah sang burung cinta, pejantan terhebat di sarangnya, mengepakan sayapnya lebih dulu dari saudaranya, berani menantang sang mentari berdiri di ujung dahan tertinggi, mempertanggug  jawabkan mimpinya pada senyman induknya "Aku akan terbang hari ini!" lantang berujar saat Ia belum tahu bahwa untuk terbang dia perlu merentangkan sayapnya.

saat pertama kali mengudara, berdiri di atas kakinya sendiri, pertama kali Ia meninggalkan sarangnya tak pernah ada niatan untuk kembali, mencari makan itu yang diajarkan sang Ibu, bertahan hidup itu yang dilatih sang Ayah, miliki kehidupan dan bersenang-senang itu yang selalu dikatakan saudaranya. Hidup terus, terus, dan terus berkelana, terus berjuang sampai Ia dewasa dan...? musim kawinpun tiba...

musim panas yang panjang tanpa makanan, musim gugur tanpa dahan pohon, musim dingin tanpa dekapan hangat sayap sang bunda, Ia terus bertahan, hingga tiba musim semi nan indah, langit yang cerah, mentari berkilauan, angin semilir lembut, dan burung-burung berkicau saling sahut-menyahut tentang rasa. apa itu? "aku tak mengerti" tahun itu bukan lah gilirannya untuk mengerti, saat dia melihat para pejantan bekerja keras, bernyanyi, saat melihat apa yang terjadi di musim sebelumnya, dan di akhir musim semi dia sadar.

saat musim panas tanpa makanan, telur-telur baru mulai menetas, saat musim gugur tanpa dahan bayi burung belajar terbang, saat musim dingin tanpa kehangatan, sarang adalah tempat idaman, dan semua itu terjadi karena jenis dari sang ibu, Burung Betina...

Ia mulai bertanya pada dunia, "apa yang harus dilakukan untuk memiliki kebahagiaan" sang Pohon menjawab "terbang;ah dan panjatlah dahan tertinggi, sang angin berkata "kumpulkanlah biji kenari di musim ini". sang bijak bilang "bangunlah sarang terbaik di dahan tertinggi pohon kenari"

Ia menghabiskan seluruh musim untuk mengupulkan ranting, seluruh musim untuk mengumulkan biji kenari, selurh musim untuk mencapai dahan tertinggi, tapi tanpa sadar Ia berlomba dengan para burung jantan lain untuk membangun sarang terbaik.

saat nyanyian burung  betina mulai merdu tertengar, Ia berdiri di puncak dahan tertinggi dan berkicau gagah, sang pujaan hati pun datang menghampiri, masuk ke dalam sarang terbaik, mencicipi butiran biji ribuan kenari, dan terbang pergi...pergi begitu saja untuk hinggap ke sarang di dahan yang lebih tinggi.

"Aku tak butuh ini" sang jantan terbang pergi, kembali berkelana di ujung tahun musim semi, tak butuh sarang di pucuk pohon kenari, tak butuh nyanyian merdu ini, dan hanya pergi, dan kembali mencari ranting di musim panas.

dan... sepasang burung tanpa sarang meletakan telurnya di puncak dahan tertinggi pohon kenari yang di tinggalkan dan salah satu telur itu adalah pejantan tehebat di sarangnya, yang akan menantang dunia serta terus mencari hingga menjadi sepasang burung tak bersarang.


Y.N.Widyatno

08 August 2018

Memekakan Telinga

Pernah kah kau merasa sekeras apa pun musik yang kau dengar tapi tak pernah menggerakkan hatimu, meski sangat terasa memekakan telinga, hingga kau sakit karenanya, tapi tak ada satu pun nada yang mencapai mu.

Sekeras apapun suara bass yang kau dengar, sekaras apa pun volume yang kau setel, atau sekeras apa genre musik yang kau pilih, semua itu tak lebih dari suara yang menyakiti telinga.

Saat berada di keramaian, saat dimana semua orang tertawa lepas, saat dimana kau tak ingat atau tak ingin mengingat segala hal, tapi sebaliknya yang kau rasa, semua minuman dan senyuman atau bahkan tawa itu tak pernah mengubah perasaan mu.

Seberapa banyak pesan yang kau tuliskan, seberapa banyak pun itu takakan pernah merubah senyum di wajah mu, hanya kau tulis saja tanpa ekspresi yang dirasa.

Saat dimana kau menuju suatu tempat tapi tak penting arti dari perjalanan itu, yang ada autopilot yang kau aktifkan, entah kapan kau tiba-tiba saja ada di sana.

Saat dimana kau merindukan sesuatu, tapi entah apa, saat dimana kau tak tahu, atau tak mau tahu, saat suara musik yang kau dengar menjadi semakin keras, semakin keras, semakin memekakan telinga, tanpa sadar semu telah kembali ke track awal.

Saat kau tak merasa senang akan keberhasilan, dan tak sedih saat kegagalan, atau tak peduli akan kehidupan, atau mungkin berpikir untuk apa hidup dalam keberpura-puraan, yakin lah suara yang memekakan telinga itu nyata, rasa sakit yang kau rasa itu nyata, dan kau masih bisa merasakan sakit, kau masih bisa merasakan bahwa kau tidak merasakan apa-apa & itu nyata!

Percayalah semua gigitan frustrasi yang kau lakukan ke tangan mu sendiri itu hanya sebuah rasa sakit sesaat, saat kau bangun di esok pagi semu rasa sakit itu hanya mimpi, dunia yang kejam akan memaksa mu untuk kembali hidup, hidup, meski hidup tanpa jiwa, setidaknya hidup kan?

Lalu apa peduli ku dengan semua kelelahan ini, hanya rasa lelah mu saja, aku tak pernah menanggung dosanya, lalu apa peduliku? itu masalah mu.

Apa pun itu lebih baik kau mati saja membusuk dalam kesendirian atau semacamnya, itu terdengar jauh lebih baik bagimu, atau menua bersama kesepian, atau kau pilih berdamai saja dengan kepedihan, lalu apa peduliku? sekalipun kau membusuk di sana secara perlahan tetap saja tak ada senyuman di wajahmu, tetap saja tak ada hal yang kau dapat, lalu apa peduliku?

Saat dimana semua suara itu semakin memekakan telinga. saat dimana kau semakin membusuk perlahan disana, itulah aku yang berdamai dengan kepedihan mu. Andai aku muak pun, aku takakan meninggalkan mu. tak peduli seberapa keras kau menolaknya, tak peduli seberapa keras kau tak peduli, karena aku adalah suara yang memekakan telinga mu.

Baca Juga !