kau seperti kertas putih
bersih dan putih
polos dan apa adanya
gambaran mimpi dan harapan
jika di ibaratkan
kau seperti kertas putih
kau akan jadi seperti apa yang tertulis
andai digambar..
kau jadi lukisan karya seni
jika ditulis kata..
kau akan jadi sajak penuh ilmu cinta
kalau diisi angka...
kau akan jadi rumus matematika
kau seperti kertas putih
jika dicoret dan tersobek
kau kan terjerumus dan bernoda
rusak..?
jika dilipat dan dirangkai
kau jadi origami nan indah bermakna
kau seperti kertas putih
kertas putih punya kehendak!
tetap bersampul seperti adanya
seperti yang kau mau.
26 /agustus
/2018 y.n.widyatno
judul asli Ayu
26 August 2018
17 August 2018
sekedar pemikiran
suatu pagi aku pernah terbangun begitu saja tanpa pemikiran dan ku biarkan itu selama beberapa waktu mungkin seminggu atau setahun, semua rasa kalut yang ada di kepala ku biarkan begitu saja tak pernah ku ungkapkan ke siapa pun karena menurut ku percuma, suatu ketika saat rasa jenuh itu datang lebih dari yang bisa aku rasakan sekarang semua telah menjadi jauh lebih aneh lagi, tanpa ku sadari mungkin aku telah kehilangan segalanya dan yang bisa kulakukan kini mungkin hanya meratapinya,
aku bosan meratap, berhenti bermimpi dan berhenti berharap, jika hidup memerlukan semangat dan harapan? jika hidup perlu sebuah tujuan dan ambisi? itu kelamaan. yang penting adalah melakukan, besar kecil baik buruk itu gak penting selama melakukan sesuatu itu hal yang jauh lebih baik karena kita akan selalu memperoleh sesuatu meski itu gak penting.
14 August 2018
Pertaruhan Penuh
Karena Mu Aku melakukan pertaruhan ini
Meski kata-Nya jangan pernah
mengundi nasib dengan anak panah
tapi aku tak peduli
meski kalah telak akan ku menangkan
aku tak peduli
meski ini akan berlangsung selamanya
aku tak peduli
meski harus sakit atau mati karenanya
aku makin tak peduli
Ini pertaruhan penuh Ku
jika aku salah dan keliru
biar kutanggung dosanya
ini pertaruhan penuh Ku
kalau ku menang itu
sudah yakin Ku
kalau Ku kalah maka
Kau adalah kebenaran
yang Ku cari
dalam pertaruhan
Ku mainkan peran ku
dalam pertaruhan
Ku jalani siksa Ku
dalam pertaruhan
Ku nikmati tawa Mu
sedikit demi sedikit aku mulai merasakan permainan
meski tipuan dan kepalsuan yang ada di mata
kadang hati menolak untuk tetap terjaga
sering kali rasa ingin pergi datang menghampiri
tapi ini pertaruhan penuh ku
kalau ini berakhir sekarang atau nanti Aku hancur tak bersisa
sudah terlambat untuk kembali dan tak ada jalan untuk pergi
di pertaruhan penuh ku dan aku tak peduli
suatu hari meski kan ku sesali
kau mungkin jadi milik ku
ketika nanti tak ada sisa dari ku
maka ini telah jadi lebih baik
bila nanti sesal itu
atau nanti marah itu
mungkin juga umpat itu
itu takkan terjadi
ku pastikan itu
karena dalam pertaruhan kecil ku
tak ada rasa bersalah atau keliru
tak peduli apa pun kartu Mu
kemenangan adalah milik ku
meski dengan atau tanpa pertaruhan itu..
Meski kata-Nya jangan pernah
mengundi nasib dengan anak panah
tapi aku tak peduli
meski kalah telak akan ku menangkan
aku tak peduli
meski ini akan berlangsung selamanya
aku tak peduli
meski harus sakit atau mati karenanya
aku makin tak peduli
Ini pertaruhan penuh Ku
jika aku salah dan keliru
biar kutanggung dosanya
ini pertaruhan penuh Ku
kalau ku menang itu
sudah yakin Ku
kalau Ku kalah maka
Kau adalah kebenaran
yang Ku cari
dalam pertaruhan
Ku mainkan peran ku
dalam pertaruhan
Ku jalani siksa Ku
dalam pertaruhan
Ku nikmati tawa Mu
sedikit demi sedikit aku mulai merasakan permainan
meski tipuan dan kepalsuan yang ada di mata
kadang hati menolak untuk tetap terjaga
sering kali rasa ingin pergi datang menghampiri
tapi ini pertaruhan penuh ku
kalau ini berakhir sekarang atau nanti Aku hancur tak bersisa
sudah terlambat untuk kembali dan tak ada jalan untuk pergi
di pertaruhan penuh ku dan aku tak peduli
suatu hari meski kan ku sesali
kau mungkin jadi milik ku
ketika nanti tak ada sisa dari ku
maka ini telah jadi lebih baik
bila nanti sesal itu
atau nanti marah itu
mungkin juga umpat itu
itu takkan terjadi
ku pastikan itu
karena dalam pertaruhan kecil ku
tak ada rasa bersalah atau keliru
tak peduli apa pun kartu Mu
kemenangan adalah milik ku
meski dengan atau tanpa pertaruhan itu..
13 August 2018
Obrolan Depan Makam
“kalian
yakin ni ngajak makan di sini” seorang pemuda menyipitkan matanya dan mengedar
sejauh yang ia bisa
“iya
kenapa?” dengan tanpa rasa bersalah seorang gadis muda menjawab polos sambil
megeluarkan HPnya
“inikan
depan makam, kalian ngajak aku makan didepan kuburan” grutu sang pemuda
“udah
ah ayo masuk..”ajak gadis muda yang lain tanpa melepas helemnya
“Jho...
itu ada tamu..” seorang pria senja berusia 60 tahun yang berdiri di balik meja
kasir memangil pemuda yang sedang mencatat pesanan salah seorang tamu kafe
“napa
si lo triak-triak” seorang pria yang usianya tak jauh beda sama senjanya,
menyahuti dengan grutuan, kepalanya masih tersungkur di depan meja kasir, dia
nampak berantakan, sungguh tak pantass dengan usianya
“ha...ha...ha..”
tawa yang cukup keras membahana, tapi tak terdengar oleh pengunjung kafe tua
itu, lagi pula selain tamu yang sedang dicatat pesananya oleh seorang pelayan,
hanya ada pria tua yang tersungkur itu, dan segrombolan remaja yang baru masuk
tadi.
“kita
mau duduk di mana?” sang pemuda masih mengerutu
“neng
ini menunya! catat sendiri saja pesananya biar gampang, nanti bawa sisi lagi
ya. Gak papa kan” sapa ramah pria senja yang berdiri di belakang meja kasiar
“siap
Kek Lin... santai aja kaya kita gak pernah kesini aja” sahut gadis muda cantik
yang masuk paling awal dari rombonganya, di terimanya daftar menu itu dengan
tangan kanan sembari tangan kirinya masih mengetik pesan di Hp
“aduh
neng pangil Om dong... masak Kakek” senyum tuanya mengembang
“hah..”
dengus pria tua yang kepalanya masih tersungkur di meja
“iya-iya
Om Lin, tempat yang biasa ya? Ayo ah aku dah lapar” ujar gadis muda yang
helemnya masih menempel di kepala. berjalan memimpin yang lainya ke sebuah meja
lesehan di pojok ujung terjauh kafe tersebut.
“lo
mau pesan apa? Tre lo yang biasa kan..?”
gadis yang memegang daftar menu, mulai menulis pesanan
“aku
tambah rotibakar, sama...” dia melepaskan helemnya perlahan dan memperbaiki
penampilanya yang ayu
“ni
meja gue gabungin aja ya biar longar, rekomendasiin gue menu... terus...”satu
satunya pemuda di rombongan itu mengerser-geser meja dengan ribetnya.
“heh...
apa lo gak bisa suruh mereka diam atau semacamnya, berisik tahu!” grutu lirih
pria senja mengakat sedikit kepalanya dari dasar meja
“ha..ha..ha...
lo kira kita dulu waktu muda gak gitu..”tatap sinis bercapur senang dari Kakek
Lin yang lebih suka dipangil Om Lin itu.
“mereka
dah di sini” seorang pemuda bertanya ke pemudi yang di gandengnya
“kalo
kata nya si uduah, paling di tempat biasa.” Sang pemudi clingak-clinguk begitu
mereka measuki kafe tua di sebrang makam itu
“ah
tu mereka” lambaian tangan sang pemuda pada pemuda lain yang masih
mengeser-geser meja
“aku
ke sana dulu, pesenin aku ya! kamu tahu apa yang aku suka..” lambaian sang
pemudi pada pria pujaannya itu sambil melengan pergi dan betriak girang meminta
sambutan para gadis yang lain,
“hah..
Om Lin yang biasa ya..” menyodorkan sebuah kartu plastik ke meja kasiar tanpa
melepas pandang dari gadis yang mengisi hatinya.
“baru
kelihatan kamu? kalian langeng ya...?” ejek Om Lin sambil menekan beberapa
tombol di mesin kasir tua, dan mengembalikan kartu palastik itu setelah digesek
tentunya beserta selemabr struk ke sang pemuda, pemuda yang penampilanya nampak kelelahan.
“ngobrolnya
tar aja Om Lin gue ke sana dulu” memandang lekat ke pria tua di hadapanya
sambil menunjuk meja di ujung kafe tempat gadisnya dan teman temannya
berkerumun, dia melangkah sambil melirik tipis ke pria yang tersungkur di depan
meja kasir.
“dasar
itu bocah, itu elo tu jama muda..” pria senaja itu memperbaiki posisi duduknya,
menyangga badannya denan sikinya, mukanya suguh tak sedap di pandang
“ha..ha...ha..bisa
aja orang tua satu ini” tawa renyah Om Lin membahanan kembali, meski tak ada
yang mendengarnya kepalanya melirik ke makam dibelang nya tepat di sebrang kafe
yang sudah ia kelola lebih dari 10 tahun itu, tatapan sedih dipelupuk matanya.
“dasar
lo kakek tua lo bela-belain beli ni kafe tua yang ampir abruk cuma biar deket
sama istrimu aja” sindirnya penuh umpat, sambil meneguk botol yang memang
sedari tadi menemaninya.
“eh
tukang mabuk, kau fikir kalau buakan karena teman istriku yang di kubur di
sebelahnya, lo mau dateng tiap hari ke bangunan reot yang nyaris bangkrut ini
hah” Umpat Om Lin tanpa melapas pandang
dari nisan istrinya.
“heh..
ah mereka bertiga dasar...! sapa tu yang satu gue lupa namanya?” mendorong sedikit botol di hadapanya menjauhinya
“si
khel maksudmu? iya di juga di kubur di
sana 8 bulan lau, sayang cuma si Yuu aja
yang gak tahu kemana rimbanya sekarang kudegar dia juga dah di kubur di
kampungnya.. lo kapan nyusul udah gue siapin satu lubang lagi di sampin cewek
lo tu..?” Ujar enteng kakek tua yang juga mulai berbau tanah
“setan
lo, gue masih mau idup seribu tahun lagi masih ada yang harus gue kelarin
dulu..”
“sumpah
tadi lo keren banget ngMC nya di pangung? “puji gadis yang usai menulis menu
menyerahkanya ke pelayan yang kebetulan lewat, matanya masih fokus ke layar HP
dan mengetikan seuatu dengan kedua ibu jarinya
“aduh-duh..”
rintih pemudi yang masih merasakan pijatan lembut dari orang yang katanya bukan
pacarnya itu.
“makanya
di lurusin kakinya” dengan lembut sang pemuda yang datang paling akhir itu
berujar tampa megurangi gerakan tangan di kaki gadis yang ia suka itu
“goe
gak negerti sama kalian bilangnya gak pacaran tapi kelauan kalin ini...?”
pemuda yang lain masih saja mengerutu
“uah
lo fokus aja ama dia!” menunjuk gadis yang masih merapikan penampilanya yang
berantakan karena helam
“iya
kamu juga gak uasah muji aku, kalo lagi chetingan ama dia, muji tapi kok
matanya fokus ke hp” ujar sebal pemudi itu hanya di balas senyuman tanpa
tatapan dari gadis yang utag dengan Hpnya
“jadi
lo berdua dah sejauh mana bro?” tatap si pemuda tukang pijat pada pemuda dan gadis
yang sedang sama-sama salah tingakah itu
“kita
gak tahu, noting hapen bro!”saling tatap dengan gadis cantik dihadapanya dan
menjawab
“Dasar
kunyak, masik kecil udah sok-sokan jatuh cinta, pantes aja dunia makin ancur,
apa kau tak bisa mengusir mereka atau semacamnya, mereka mengganggu pelangan mu
tahu.” pria tua itu malai hilang sabar saat telinganya mulai merasa bising
“eh
dasar tukang mabuk” beralih menatap tajam ke lawan bicaranya”yang mengganggu
pelangan ku itu tukang mabuk kaya lo, lagi pula apa kau tak lihat tempat ini,
mereka itu salah satu langanan ku” Om Lin membela pelangannya
“ini
bos” sang pelayan menyela dan menyerahkan daftar pesanan kepada bosnya
“oh..
cepat kamu buat pesanan ini Jho” ujarnya kepada satu-satunya pelayan di kafe
itu
“heh
kau lihat kunyuk itu, itu kayak kau dan istrimu dulu, gak tahu otaknya
didengkul apa, mau-maunya aja tu bocah jadi babu tu cewek. Kalian berdua sama
tololnya” Mengangkat sedikit jarinya dan
mengarahkanya ke pemuda yang sedang memijit kaki pacarnya
“heh
jaga bicaramu, namanya juga orang jatuh cinta” Om Lin tersenyum kecut sambil
melirik kecil ke figura foto kecil di tepi meja kasirnya, fota dirinya dan sang
istri saat mereka belum menikah dulu, masih sangat muda, sorot mata yang masih
sangat cerah.
“heh..
cinta.. “ dengus sang pria senja melirik figura
yang sama
“kau
lihat mereka, yang cowok dia sudah jadi langananku jauh lebih dulu dari yang
lain, hidupnya berat aku sendiri tak terlalu jelas dengan ceritanya, tapi dari
caranya bercerita kau akan tahu kalau Ia menjalani hidupnya dengan keras,
sementara itu nono manis yang di sana itu yang sedang dipijit oleh tu bocah,
kufikir juga sama getirnya, tak banyak yang ku dengar soal nana itu selain dia
adalah gadis yang berprestasi, tapi aku selalu melihat senyum kepalsuan itu.
Mereka saling melengkapai, dua lidi lebih baik kan dari pada satu, meski
nantinya lidi itu akan patah juga” Om Lin menatap nanar dengan mata tuanya
“halah
katakan itu pada istrimu, aku tak mau dengar bualanmu” dengus pria tua itu
semari menjerembabkan kempali kepalanya ke dasar meja
“kau
lihat dua pasang yang lain itu, yang pria baru pertama kali aku melihatnya,
sepertinya dia yang sering dibicarakan oleh mereka yang katanya disukai oleh
gadis yang tadi masih memakai helam itu. Mirip cerita seseorang saja, bukan kah
begitu?” sindirnya ke pria tua di hadapannya
“heh....”
makin menengelamkan wajahnya ke dasar meja,
“dasar
pak tua, dia sudah lama mati kau masih meratapinya, kau masih merasa bersalah?,
setidaknya kau dengarkan aku sedikit” bentaknya sekeras yang tidak bisa
didengar pengunjung kafe yang lain
“teruskan
saja ceritamu aku mendengarkan”denan kepala masil tertelungkup satu tanganya
melambai memberikan isyarat untuk lenjutkan
“kalau
aku sering menuping pembicaraan mereka sebelumnya, sepertinya sang peia juga
suka pada sang wanita hanya saja dia seperi kau. Lelaki cemen yang gak bisa lepas
dari cinta pertamanya”Om Lin melanjutkan ceritanya
“
lanjutkan-lanjutkan aku tak peduli” sambainya lagi sambil tanpa mengankat
kepala dan terus ter terjerembab
“eh
gimana kabrnya sekarang, kudengar dia sudah setua kita, siapa namanya?” Om Lin
membuka luka lama
“sudahlah”
akhirnya pria tua itu bangkit berdiri dan “ sudahlah aku harus pergi ada
kuburan yang harus aku temui” melengang pergi tanpa pamit atau isyarat
“kenapa
dia Kek Lin? O..ya berapa?” tanya seorang gadis yang masih ke layar HP nya
“bukan
apa-apa. seperti biasa hanya ditambah
bocah laki-laki itu saja “ menunjuk layat, nomilan yang harus sang gadis bayar.
“O...”
menempelkan hapenya ke pemindai pembayaran dan melengang kembali ke sudut
terjauh kafe tersebut
“neng
sudah berapa kali Om bilang pangil Om
saja jangan Kakek” teriak Om Lin sebelum sang gadis semakin jauh
“hehem..”
sutas senyum dilempar ke sang kakek tua di balik meja kasir.
“udah
di bayar?” tanya seorang pemudi yang kakinya sudah enakan
“makanan
kita sudah aku yang bayar tadi” ujar penuh kasih sang pemuda
“hah
apa iya, dah lah ayo pergi?” ujar sang gadis yang baru datang dari meja kasir
itu. Sementara kedua muda-mudi yang lain masih canggung
“sampa
jumpa lagi Kek Lin..” sapanya berpamitan pada sang penjaga mesin kasir
"yow... Om Lin, cabut dulu" sang pemuda mengandeng gadisnya
“iya
trimakasih neng, terimakasih semua” balas kehagatan Om Lin
“kalian
bener bener ngajak makan didepan kuburan” setibanya di luar sang pemuda
pengerutu memecah kecanggungannya denan mengedar kan mata ke makam di sebrang
cafe.
.
. .
“sekarang
apa yang mau kau lakukan?” sang kakek pemabuk kembali
“sudah
nyekarnya? Entah mungkin aku akan menutupnya begitu aku menyusul istriku. Kau
sendiri...?” Om Lin mengedar sunyi ke seisi kafenya dan berakhir di pigura
foto di sudut meja kasirnya
“Aku
? ada hal yang harus ku selesaikan, kuburnya kosong, dia masih belum mati...”
11 August 2018
sang Burung Cinta
Dialah sang burung cinta, pejantan terhebat di sarangnya, mengepakan sayapnya lebih dulu dari saudaranya, berani menantang sang mentari berdiri di ujung dahan tertinggi, mempertanggug jawabkan mimpinya pada senyman induknya "Aku akan terbang hari ini!" lantang berujar saat Ia belum tahu bahwa untuk terbang dia perlu merentangkan sayapnya.
saat pertama kali mengudara, berdiri di atas kakinya sendiri, pertama kali Ia meninggalkan sarangnya tak pernah ada niatan untuk kembali, mencari makan itu yang diajarkan sang Ibu, bertahan hidup itu yang dilatih sang Ayah, miliki kehidupan dan bersenang-senang itu yang selalu dikatakan saudaranya. Hidup terus, terus, dan terus berkelana, terus berjuang sampai Ia dewasa dan...? musim kawinpun tiba...
musim panas yang panjang tanpa makanan, musim gugur tanpa dahan pohon, musim dingin tanpa dekapan hangat sayap sang bunda, Ia terus bertahan, hingga tiba musim semi nan indah, langit yang cerah, mentari berkilauan, angin semilir lembut, dan burung-burung berkicau saling sahut-menyahut tentang rasa. apa itu? "aku tak mengerti" tahun itu bukan lah gilirannya untuk mengerti, saat dia melihat para pejantan bekerja keras, bernyanyi, saat melihat apa yang terjadi di musim sebelumnya, dan di akhir musim semi dia sadar.
saat musim panas tanpa makanan, telur-telur baru mulai menetas, saat musim gugur tanpa dahan bayi burung belajar terbang, saat musim dingin tanpa kehangatan, sarang adalah tempat idaman, dan semua itu terjadi karena jenis dari sang ibu, Burung Betina...
Ia mulai bertanya pada dunia, "apa yang harus dilakukan untuk memiliki kebahagiaan" sang Pohon menjawab "terbang;ah dan panjatlah dahan tertinggi, sang angin berkata "kumpulkanlah biji kenari di musim ini". sang bijak bilang "bangunlah sarang terbaik di dahan tertinggi pohon kenari"
Ia menghabiskan seluruh musim untuk mengupulkan ranting, seluruh musim untuk mengumulkan biji kenari, selurh musim untuk mencapai dahan tertinggi, tapi tanpa sadar Ia berlomba dengan para burung jantan lain untuk membangun sarang terbaik.
saat nyanyian burung betina mulai merdu tertengar, Ia berdiri di puncak dahan tertinggi dan berkicau gagah, sang pujaan hati pun datang menghampiri, masuk ke dalam sarang terbaik, mencicipi butiran biji ribuan kenari, dan terbang pergi...pergi begitu saja untuk hinggap ke sarang di dahan yang lebih tinggi.
"Aku tak butuh ini" sang jantan terbang pergi, kembali berkelana di ujung tahun musim semi, tak butuh sarang di pucuk pohon kenari, tak butuh nyanyian merdu ini, dan hanya pergi, dan kembali mencari ranting di musim panas.
dan... sepasang burung tanpa sarang meletakan telurnya di puncak dahan tertinggi pohon kenari yang di tinggalkan dan salah satu telur itu adalah pejantan tehebat di sarangnya, yang akan menantang dunia serta terus mencari hingga menjadi sepasang burung tak bersarang.
Y.N.Widyatno
08 August 2018
Memekakan Telinga
Pernah kah kau merasa sekeras apa pun musik yang kau dengar tapi tak pernah menggerakkan hatimu, meski sangat terasa memekakan telinga, hingga kau sakit karenanya, tapi tak ada satu pun nada yang mencapai mu.
Sekeras apapun suara bass yang kau dengar, sekaras apa pun volume yang kau setel, atau sekeras apa genre musik yang kau pilih, semua itu tak lebih dari suara yang menyakiti telinga.
Saat berada di keramaian, saat dimana semua orang tertawa lepas, saat dimana kau tak ingat atau tak ingin mengingat segala hal, tapi sebaliknya yang kau rasa, semua minuman dan senyuman atau bahkan tawa itu tak pernah mengubah perasaan mu.
Seberapa banyak pesan yang kau tuliskan, seberapa banyak pun itu takakan pernah merubah senyum di wajah mu, hanya kau tulis saja tanpa ekspresi yang dirasa.
Saat dimana kau menuju suatu tempat tapi tak penting arti dari perjalanan itu, yang ada autopilot yang kau aktifkan, entah kapan kau tiba-tiba saja ada di sana.
Saat dimana kau merindukan sesuatu, tapi entah apa, saat dimana kau tak tahu, atau tak mau tahu, saat suara musik yang kau dengar menjadi semakin keras, semakin keras, semakin memekakan telinga, tanpa sadar semu telah kembali ke track awal.
Saat kau tak merasa senang akan keberhasilan, dan tak sedih saat kegagalan, atau tak peduli akan kehidupan, atau mungkin berpikir untuk apa hidup dalam keberpura-puraan, yakin lah suara yang memekakan telinga itu nyata, rasa sakit yang kau rasa itu nyata, dan kau masih bisa merasakan sakit, kau masih bisa merasakan bahwa kau tidak merasakan apa-apa & itu nyata!
Percayalah semua gigitan frustrasi yang kau lakukan ke tangan mu sendiri itu hanya sebuah rasa sakit sesaat, saat kau bangun di esok pagi semu rasa sakit itu hanya mimpi, dunia yang kejam akan memaksa mu untuk kembali hidup, hidup, meski hidup tanpa jiwa, setidaknya hidup kan?
Lalu apa peduli ku dengan semua kelelahan ini, hanya rasa lelah mu saja, aku tak pernah menanggung dosanya, lalu apa peduliku? itu masalah mu.
Apa pun itu lebih baik kau mati saja membusuk dalam kesendirian atau semacamnya, itu terdengar jauh lebih baik bagimu, atau menua bersama kesepian, atau kau pilih berdamai saja dengan kepedihan, lalu apa peduliku? sekalipun kau membusuk di sana secara perlahan tetap saja tak ada senyuman di wajahmu, tetap saja tak ada hal yang kau dapat, lalu apa peduliku?
Saat dimana semua suara itu semakin memekakan telinga. saat dimana kau semakin membusuk perlahan disana, itulah aku yang berdamai dengan kepedihan mu. Andai aku muak pun, aku takakan meninggalkan mu. tak peduli seberapa keras kau menolaknya, tak peduli seberapa keras kau tak peduli, karena aku adalah suara yang memekakan telinga mu.
Sekeras apapun suara bass yang kau dengar, sekaras apa pun volume yang kau setel, atau sekeras apa genre musik yang kau pilih, semua itu tak lebih dari suara yang menyakiti telinga.
Saat berada di keramaian, saat dimana semua orang tertawa lepas, saat dimana kau tak ingat atau tak ingin mengingat segala hal, tapi sebaliknya yang kau rasa, semua minuman dan senyuman atau bahkan tawa itu tak pernah mengubah perasaan mu.
Seberapa banyak pesan yang kau tuliskan, seberapa banyak pun itu takakan pernah merubah senyum di wajah mu, hanya kau tulis saja tanpa ekspresi yang dirasa.
Saat dimana kau menuju suatu tempat tapi tak penting arti dari perjalanan itu, yang ada autopilot yang kau aktifkan, entah kapan kau tiba-tiba saja ada di sana.
Saat dimana kau merindukan sesuatu, tapi entah apa, saat dimana kau tak tahu, atau tak mau tahu, saat suara musik yang kau dengar menjadi semakin keras, semakin keras, semakin memekakan telinga, tanpa sadar semu telah kembali ke track awal.
Saat kau tak merasa senang akan keberhasilan, dan tak sedih saat kegagalan, atau tak peduli akan kehidupan, atau mungkin berpikir untuk apa hidup dalam keberpura-puraan, yakin lah suara yang memekakan telinga itu nyata, rasa sakit yang kau rasa itu nyata, dan kau masih bisa merasakan sakit, kau masih bisa merasakan bahwa kau tidak merasakan apa-apa & itu nyata!
Percayalah semua gigitan frustrasi yang kau lakukan ke tangan mu sendiri itu hanya sebuah rasa sakit sesaat, saat kau bangun di esok pagi semu rasa sakit itu hanya mimpi, dunia yang kejam akan memaksa mu untuk kembali hidup, hidup, meski hidup tanpa jiwa, setidaknya hidup kan?
Lalu apa peduli ku dengan semua kelelahan ini, hanya rasa lelah mu saja, aku tak pernah menanggung dosanya, lalu apa peduliku? itu masalah mu.
Apa pun itu lebih baik kau mati saja membusuk dalam kesendirian atau semacamnya, itu terdengar jauh lebih baik bagimu, atau menua bersama kesepian, atau kau pilih berdamai saja dengan kepedihan, lalu apa peduliku? sekalipun kau membusuk di sana secara perlahan tetap saja tak ada senyuman di wajahmu, tetap saja tak ada hal yang kau dapat, lalu apa peduliku?
Saat dimana semua suara itu semakin memekakan telinga. saat dimana kau semakin membusuk perlahan disana, itulah aku yang berdamai dengan kepedihan mu. Andai aku muak pun, aku takakan meninggalkan mu. tak peduli seberapa keras kau menolaknya, tak peduli seberapa keras kau tak peduli, karena aku adalah suara yang memekakan telinga mu.
Subscribe to:
Comments (Atom)