24 November 2018

Lamunan

Gadis kecil berlari ke taman depan sekolahnya, taman yang tak terlalu luas, sedikit rerumputan hijau mengitari tempat itu, ada sepasang ayunan di sana, sebuah jungkat-jungkit dan tentu saja prosotan, saat itu masih jam belajar, pelajaran matematika sepertinya, karenanya si gadis kecil berlari ke tempat itu sekarang, untuk sesaat Dia ingin melupakan beban terberat dalam hidupnya.

cerita pendek lamunan gadis kecil tentang taman bermain saat pelajaran matematikaGadis kecil itu berlari menyeberang jalan matanya terus fokus ke arah taman itu, Dia membayangkan alangkah menyenangkannya jika dia bisa berayun ke sana ke mari, ke depan ke belakang sepuasnya, berseluncur ria dari tingginya menara prosotan, berteriak bebas ketika merasakan adrenalinnya naik saat angin mengibas rambut pendeknya, mengulanginya beberapa kali sampai hatinya benar-benar merasa puas, terus naik dan berseluncur turun, berayun ke depan dan ke belakang dengan cerianya.

Siapa tahu dia akan bertemu seorang teman baru di sana, mungkin temannya mau untuk diajak bermain bersama, atau lebih baik lagi mereka bisa bermain jungkat-jungkit bersama, tertawa riang karena terlempar tinggi dan langsung terhujam  turun bergantian, sensasi mengocok perut yang tak ada duanya, mengelitik hinga ke hati mereka, sambil sesekali bergurau dan melempar obrolan yang hanya ocehan kesana-kemari tanpa arah, hanya  menikmata saat bermain jungkat-jungkit dan tertawa.

Gadis kecil itu berharap bahwa teman barunya adalah seorang gadis kecil cantik sama sepertinya, tapi kalau pun  yang Dia temui nanti adalah anak laki-laki juga tak apa, asalkan anak itu tak menyebalkan seperti kebanyakan anak laki-laki di kelasnya, yang badung dan menjengkelkan, yang terus mengganggunya saat mengerjakan soal matematika di bukunya

Untuk sesaat dunia terasa begitu sempurna langit cerah, mentari bersinar, udara yang mengalir lembut, dan langkah kakinya yang ringan, membuat gadis kecil itu terus berlari, tak sabar untuk segera sampai di taman itu dan bermain sepuasnya sama seperti yang Dia bayangkan, andai saja sekarang bukan jam pelajaran matematika, andai saja dia bisa berlari kabur dari kelas lebih cepat, andai saja tak ada guru dan satpam sekolah yang mengejarnya, dan andai saja dia tak tergeletak di pinggir jalan karena sedan putih yang menabrak tubuh kecilnya barusan, andai saja para guru tak histeris dan menelepon ambulan, pastilah sekarang gadis kecil itu sedang tertawa bersama teman barunya di taman itu, bukanya menahan napas di dalam ambulan yang pengap dan melaju cepat ini

"Ninda, coba ke depan! kerjakan soal penjumlahan nomer dua"

"e'h iya Bu." seorang gadis kecil bangkit dari tempat duduknya dan maju menulis di papan tulis meninggalkan lamunannya tentang taman di luar jendela..

24/Nofember           
/2018  y.n.widyatn

No comments:

Baca Juga !