29 December 2018

Manusia Berdua

aku selalu di belakang mu
di sana di sudut kelas ini
di sana di bangku ujung ruang ini
di sana tempat ku melihat mu

duduk bersanding dengan nya setip pagi
kalian tak pernah bilang ya
atau tidak, kalian tak pernah
bilang sayang atau rindu
sayang dan rindu mu itu miliknya
orang lain..

tapi kalian bersanding berdua di depan ku
tak pernah jauh selalu begitu
entah siapa ? yang memulai siapa?
tak tahu ? seperti tak ada bangku lain
kalian tak pedulikan suasana
tak peduli sorot riuh para siswa

lupa laut lupa daratan
lupa pacar lupa materi pelajaran
sipu malu dan seringai kebahagiaan
itu lucu...

dari tempatku ku melihat
dua sejoli yang tak mungkin seirama
mereka yang mengerti itu, tetap
bersanding kaku, bersorai simpul.
disepanjang indraku.

27 November 2018

Mpu Bagobo

pada zaman dahulu, saat nusantara masih berbentuk kerajaan, hiduplah seorang pandai besi bernama  mpu Bagobo. namanya telah kondang seantero kerajaan sebagai seorang ahli pembuat keris, keri-kerisnya sangat luar biasa saktinya, kalao dibandingkan dengan  keris lekuk tujuhnya Mpu Gandring di zaman majapahit dapat dibilang sebelas duabelas.

Meskipun dipanggil Mpu tapi sebenarnya Ia tidak setua yang dibayangkan, memang benar masa mudanya dihabiskan untuk bertapa, dan setelahnya setelah Ia turun gunung dan membuka bengkel pandai besinya sendiri, saat namanya mulai terkenal, saat keris buatannya telah kondang ke seluruh kerajaan Ia menikahi gadis pujaannya yang tak lain adalah teman masa kecilnya sendiri, dan di tahun-tahun berikutnya Mpu Bagobo dan gadis yang sekrang menjadi istrinya hanya fokus tentang bagai mana membuat keris yang jauh lebih sakti lagi.

tahun-tahun itu terus berlalu seiring mulai banyaknya pesanan keris bahkan dari raja-raja di kerajaan seberang lautan, akhirnya Mpu Bagobo merasa sudah saatnya mereka mencari pengganti dan penerus bengkel pandai besi itu. tak butuh waktu lama setelah Mpu Bagobo bertapa selama beberapa waktu, sang istri melahirkan seorang anak yang kelak akan mewarisi seluruh ilmu dan keahlian menempa ayahnya, namun kelahiran anak ini harus dibayar mahal dengan kematian sang istri. ditambah lagi sang anak adalah seorang bayi perempuan yang cantik. menjadikan Mpu Bagobo hilang harapan, dimasa itu bengkel pandai besi adalah tempat yang tak boleh diinjak oleh seorang wanita, sama halnya Istrinya saja tak pernah sekalipun menginjakkan kaki di bengkel suaminya apalagi menyentuh keris yang sedang ditempa, selain itu adalah hal yang dilarang, semua orang saat itu percaya bahwa keris yang tersentuh kesucian hati seorang wanita maka akan luluh dan hilang segala kuasanya.

semua mulai berantakan. kini keris buatan Mpu Bagobo  tak bernyawa seperti dulu, banyak pelanggannya yang kecewa, meski begitu mereka masih percaya bahwa sang Mpu mapu membuat keris yang tak ada tandingannya, tapi karena rasa sedinya Ia mulai menolak semua pesanan beserta kereta-kereta emas permata yang dibawa sebagai mahar pembuatan kerisnya, bengkelnya kini tutup, terbengkalai tak ubahnya kandang kuda saja, dan harinya hanya dihabiskan di meja judi dan mabuk-mabukan, hingga dia kehilangan anak gadisnya di meja judi.

Mpu Bagobo masih memiliki semua kesaktiannya, tak ada orang yang berani menantangnya di meja judi kecuali orang itu berniat kehilangan segalanya, miskin tujuh turunan, banyak yang bilang kalo Mpu Bagobo punya ilmu nujum Ia bisa tahu masa depan.  tapi di malam itu seorang bandit menipunya, mencurangi Mbu Bagobo saat Ia telah mempertaruhkan segalanya termasuk anak dan harga dirinya sebagai seorang pandai besi, kala itu sang anak masih berusia 3 tahun saat diseret dan dijadikan budak oleh sang bandit, Kini Mpu Bagobo mulai hilang akal dan para warga yang jenkel dengan kelakuannya yang tak waras, mengasingkannya ke gubuk kecil di pinggir hutan jauh dari kerajaan, sekarang Ia menua dan dibiarkan membusuk di sana.

Sudah 20 tahun sejak kejadian itu, kini ditempat dimana Mpu bagobo diasingkan didatangi puluhan pasukan berkuda dari kerajaan, salah satu dari pengendara kuda itu turun dan masuk kemudian berkata bahwa Mpu Bagobo diminta menghadap sang raja, orang sinting nyaris 100 tahun lebih itu sontak menolak, hingga terpaksa harus di seret oleh pasukan berkuda itu untuk bertemu sang raja, Sebenarnya Mpu Bagobo tak pernah benar-benar kehilangan semua akalnya, hanya saja botol tuak yang selalu  dibawanya lah yang membuatnya tak bisa berfikir jernih. Ia sudah bisa menebak kenapa sang raja ingin bertemu dengannya.

Benar saja begitu Mpu Bagobo dipaksa berlutut di bawah singgasana sang raja, terbakannya terbukti benar, sang raja meminta untuk dibuatkan sebuah keris yang lebih hebat dari semua keris yang pernah dibuat oleh Mpu Bagobo selama 50 tahun karirnya sebagai seorang pandai besi, lebih kuat dari semua keris yang dimiliki oleh para Patih dan Raja-Raja di kerajaan lain, lebih sakti dari semua keris sakti yang diketahui di dunia ini. dia menawarkan imbalan yang pantas 10% dari produksi tambang emas kerajaan adalah miliknya dan anak keturunannya jika Ia sanggup membuatnya.

Mbu Bagobo menyempatkan meneguk isi botol tuaknya sebelum menjawab, dengan muka merah pucat khas seorang pemabuk, dia berfikir sejenak. sambil ngelantur kakek berjengot putih panjang itu menajawab tentang apa yang terjadi jika dia menolak permintaan sang Raja, sang raja membenarkan  Ia memang berniat memenggal kepala sang Mpu saat itu juga jika Ia menolak atau gagal mewujudkan keinginan sang Raja. sepertinya rakyat tidak akan keberatan jika seorang pria tua pemabuk dipenggal kepalanya begitu ujar sang raja

Paham resikonya Mpu Bagobo menaikkan taruhannya, sambil cegukan karena tuaknya Ia mengajukan  tiga syarat: pertama dia mau selama proses pembuatan keris tersebut Ia diberikan kuasa penuh termasuk mengambil alih bengkel pandai besi kerajaan, dan meminta seribu orang prajurit untuk mengawalnya mengambil bahan baku keris jauh ke pelosok negeri. sang raja tak terlalu keberatan, syarat kedua masalah bayaran Mpu Bagobo hanya meminta separuh wilayah kerajaan diberikan kepadanya karena Ia tahu kalau keris itu akan digunakan untuk menaklukkan kerajaan-kerajaan seberang, sang raja hanya tersenyum, dan syarat ketiga jika Ia berhasil menyelesaikan tugasnya Ia meminta bonus dinikahkan dengan anak gadis semata wayang sang raja yang kala itu masih berumur 20 tahunan, sang raja terdiam sejenak kemudian meminta pengawal untuk memenggal kepal orang gila di hadapannya sekarang juga.

Naas bagi sang Mpu hinga tetes terakhir tuaknya habis kepalanya masih di tempatnya, belum ada satu prajurit pun yang berhasil memenggalnya, menyentuh baju sang Mpu pun tak bisa, entah berapa puluh prajurit yang dikeluarkan tapi semuanya terkapar sebelum berhasil menyerang sang orang gila, para Patih yang memperhatikan mulai berdiskusi tentang ajian "ngusah nogo" ajian mengusir naga dimana pemilik ajian ini tak bisa disentuh oleh siapapun bahkan naga sekalipun. ajian ini biasanya dimiliki dan dipakai oleh para petapa agar tak ada mara bahaya yang mengganggu tapannya, konon itu cuma legenda karena hanya orang yang telah bertapa selama seribu tahunlah yang memilikinya, dan semua orang tahu tidak ada yang hidup selama itu. tapi melihat posisi sang Mpu yang berbaring miring dengan satu tangan menyangga kepala dan tangan yang lain memegang botol tuak di mulutnya dan posis kaki yang "tengkreng" setengah bersila sebelah, jelas itu adalah posisi "topo mendem" atau tapa mabuk. yang konon hanya di lakukan oleh "Raja Tuak" yakni orang yang tidak akan mabuk sekalipun meminum arak sebanyak apaun.

Penasehat kerajaan mulai berbisik ke sang raja, dan raja pun memberikan perintah untuk menghentikan serangan, Mpu Bagobo membuka matanya yang semuala terpejam lelap lalu bangkit bersila meletakkan botol tuknya dan berteriak agar botol itu diisi kembali oleh pelayan kerajaan. sementara prajurit yang lain membantu mengankat tubuh rekan mereka yang terkapar karena terpental oleh ajaian ngusah nogo Mpu Bagobo. saat pelayan kerajaan keluar mebawa ketel berisi tuak untuk di tuang ke botol si peminta, sang raja menahanya dan mengabil ceret itu lalu mendatangi sendiri Mpu Bagobo. untuk mengisi kan botol tuaknya. sambil berbisik di telinga Mpu Bagobo.....


Bersmbung.....

27/November            
/2018 y.n.widyatno



24 November 2018

Lamunan

Gadis kecil berlari ke taman depan sekolahnya, taman yang tak terlalu luas, sedikit rerumputan hijau mengitari tempat itu, ada sepasang ayunan di sana, sebuah jungkat-jungkit dan tentu saja prosotan, saat itu masih jam belajar, pelajaran matematika sepertinya, karenanya si gadis kecil berlari ke tempat itu sekarang, untuk sesaat Dia ingin melupakan beban terberat dalam hidupnya.

cerita pendek lamunan gadis kecil tentang taman bermain saat pelajaran matematikaGadis kecil itu berlari menyeberang jalan matanya terus fokus ke arah taman itu, Dia membayangkan alangkah menyenangkannya jika dia bisa berayun ke sana ke mari, ke depan ke belakang sepuasnya, berseluncur ria dari tingginya menara prosotan, berteriak bebas ketika merasakan adrenalinnya naik saat angin mengibas rambut pendeknya, mengulanginya beberapa kali sampai hatinya benar-benar merasa puas, terus naik dan berseluncur turun, berayun ke depan dan ke belakang dengan cerianya.

Siapa tahu dia akan bertemu seorang teman baru di sana, mungkin temannya mau untuk diajak bermain bersama, atau lebih baik lagi mereka bisa bermain jungkat-jungkit bersama, tertawa riang karena terlempar tinggi dan langsung terhujam  turun bergantian, sensasi mengocok perut yang tak ada duanya, mengelitik hinga ke hati mereka, sambil sesekali bergurau dan melempar obrolan yang hanya ocehan kesana-kemari tanpa arah, hanya  menikmata saat bermain jungkat-jungkit dan tertawa.

Gadis kecil itu berharap bahwa teman barunya adalah seorang gadis kecil cantik sama sepertinya, tapi kalau pun  yang Dia temui nanti adalah anak laki-laki juga tak apa, asalkan anak itu tak menyebalkan seperti kebanyakan anak laki-laki di kelasnya, yang badung dan menjengkelkan, yang terus mengganggunya saat mengerjakan soal matematika di bukunya

Untuk sesaat dunia terasa begitu sempurna langit cerah, mentari bersinar, udara yang mengalir lembut, dan langkah kakinya yang ringan, membuat gadis kecil itu terus berlari, tak sabar untuk segera sampai di taman itu dan bermain sepuasnya sama seperti yang Dia bayangkan, andai saja sekarang bukan jam pelajaran matematika, andai saja dia bisa berlari kabur dari kelas lebih cepat, andai saja tak ada guru dan satpam sekolah yang mengejarnya, dan andai saja dia tak tergeletak di pinggir jalan karena sedan putih yang menabrak tubuh kecilnya barusan, andai saja para guru tak histeris dan menelepon ambulan, pastilah sekarang gadis kecil itu sedang tertawa bersama teman barunya di taman itu, bukanya menahan napas di dalam ambulan yang pengap dan melaju cepat ini

"Ninda, coba ke depan! kerjakan soal penjumlahan nomer dua"

"e'h iya Bu." seorang gadis kecil bangkit dari tempat duduknya dan maju menulis di papan tulis meninggalkan lamunannya tentang taman di luar jendela..

24/Nofember           
/2018  y.n.widyatn

05 November 2018

Mimpi di Luar Dunia

suatu pagi saat terbangun dan melihat ke jendela
udara pagi berselimut kabut tipis menyapa
jauh lebih pagi dari sang mentari
atau pun gema ayam jantan

mata terasa tertusuk
saat bisingnya suara hati mulai membangunkan
sejuk hanya dingin yang tak dirasa
mata mulai terbuka
ketika seutas suara lirih bersenandung merdu
beranjak pergi dengan satu kata mengiang di  telinga
ah udara pagi...

harum lembut mu adalah sarapan setiap pagiku
gemericik tawa renyah mu laksana weker ku
bercampur kalutnya pikiran dan perasaan
memaksa berdiri tuk bangkit dari alam mimpi
menyisakan hati dengan dunia fana ini

05 /November
    /2018 y.n.widyatno

23 September 2018

sinopsis "The Book Of Love"

Gambar terkait
 kebanyakan kisah diawali dengan " pada suatu ketika...", atau "cerita berawal dari..." tapi kita tahu tidak ada cerita yang benar-benar diceritakan dari awal, terkadang itu berbeda, saat menjadi bermakna dan memulai hal baru itulah saat sebuah cerita berawal.

gadis kecil benama Misel 16 tahun berkeliaran di komplek untuk mencari barang bekas yang dapat ia gunakan untuk membangun sebuah rakit, dibantu seorang pria arsitek yang baru saja kehilangan istrinya satu bulan lalu, mereka membangun sebuah rakit untuk menyeberangi laut pasifik, banyak konflik dan cerita yang terungkap dan mereka tahu bahwa mereka tidak akan sendirian meski mereka tidak mencatat sejarah

17 /Februari
    /2017 y.n.widyatno

26 August 2018

SMA

kau seperti kertas putih
bersih dan putih
polos dan apa adanya
gambaran mimpi dan harapan

jika di ibaratkan
kau seperti kertas putih
kau akan jadi seperti apa yang tertulis
andai digambar..
kau jadi lukisan karya seni
jika ditulis kata..
kau akan jadi sajak penuh ilmu cinta
kalau diisi angka...
kau akan jadi rumus matematika

kau seperti kertas putih
jika dicoret dan tersobek
kau kan terjerumus dan bernoda
rusak..?
jika dilipat dan dirangkai
kau jadi origami nan indah bermakna

kau seperti kertas putih
kertas putih punya kehendak!
tetap bersampul seperti adanya
seperti yang kau mau.

26 /agustus
    /2018 y.n.widyatno

judul asli Ayu

17 August 2018

sekedar pemikiran

suatu pagi aku pernah terbangun begitu saja tanpa pemikiran dan ku biarkan itu selama beberapa waktu mungkin seminggu atau setahun, semua rasa kalut yang ada di kepala ku biarkan begitu saja tak pernah ku ungkapkan ke siapa pun karena menurut ku percuma, suatu ketika saat rasa jenuh itu datang lebih dari yang bisa aku rasakan sekarang semua telah menjadi jauh lebih aneh lagi, tanpa ku sadari mungkin aku telah kehilangan segalanya dan yang bisa kulakukan kini mungkin hanya meratapinya,
aku bosan meratap, berhenti bermimpi dan berhenti berharap, jika hidup memerlukan semangat dan harapan? jika hidup perlu sebuah tujuan dan ambisi? itu kelamaan. yang penting adalah melakukan, besar kecil baik buruk itu gak penting selama melakukan sesuatu itu hal yang jauh lebih baik karena kita akan selalu memperoleh sesuatu meski itu gak penting.

14 August 2018

Pertaruhan Penuh

Karena Mu Aku melakukan pertaruhan ini
Meski kata-Nya jangan pernah
mengundi nasib dengan anak panah
tapi aku tak peduli

meski kalah telak akan ku menangkan
aku tak peduli
meski ini akan berlangsung selamanya
aku tak peduli
meski harus sakit atau mati karenanya
aku makin tak peduli

Ini pertaruhan penuh Ku
jika aku salah dan keliru
biar kutanggung dosanya

ini pertaruhan penuh Ku
kalau ku menang itu
sudah yakin Ku
kalau Ku kalah maka
Kau adalah kebenaran
yang Ku cari

dalam pertaruhan
Ku mainkan peran ku
dalam pertaruhan
Ku jalani siksa Ku
dalam pertaruhan
Ku nikmati tawa Mu

sedikit demi sedikit aku mulai merasakan permainan
meski tipuan dan kepalsuan yang ada di mata
kadang hati menolak untuk tetap terjaga
sering kali rasa ingin pergi datang menghampiri
tapi ini pertaruhan penuh ku

kalau ini berakhir sekarang atau nanti Aku hancur tak bersisa
sudah terlambat untuk kembali dan tak ada jalan untuk pergi
di pertaruhan penuh ku dan aku tak peduli
suatu hari meski kan ku sesali
kau mungkin jadi milik ku
ketika nanti tak ada sisa dari ku
maka ini telah jadi lebih baik

bila nanti sesal itu
atau nanti marah itu
mungkin juga umpat itu
itu takkan terjadi
ku pastikan itu

karena dalam pertaruhan kecil ku
tak ada rasa bersalah atau keliru
tak peduli apa pun kartu Mu
kemenangan adalah milik ku
meski dengan atau tanpa pertaruhan itu..


13 August 2018

Obrolan Depan Makam


“kalian yakin ni ngajak makan di sini” seorang pemuda menyipitkan matanya dan mengedar sejauh yang ia bisa
“iya kenapa?” dengan tanpa rasa bersalah seorang gadis muda menjawab polos sambil megeluarkan HPnya
“inikan depan makam, kalian ngajak aku makan didepan kuburan” grutu sang pemuda
“udah ah ayo masuk..”ajak gadis muda yang lain tanpa melepas helemnya
“Jho... itu ada tamu..” seorang pria senja berusia 60 tahun yang berdiri di balik meja kasir memangil pemuda yang sedang mencatat pesanan salah seorang tamu kafe
“napa si lo triak-triak” seorang pria yang usianya tak jauh beda sama senjanya, menyahuti dengan grutuan, kepalanya masih tersungkur di depan meja kasir, dia nampak berantakan, sungguh tak pantass dengan usianya
“ha...ha...ha..” tawa yang cukup keras membahana, tapi tak terdengar oleh pengunjung kafe tua itu, lagi pula selain tamu yang sedang dicatat pesananya oleh seorang pelayan, hanya ada pria tua yang tersungkur itu, dan segrombolan remaja yang baru masuk tadi.
“kita mau duduk di mana?” sang pemuda masih mengerutu
“neng ini menunya! catat sendiri saja pesananya biar gampang, nanti bawa sisi lagi ya. Gak papa kan” sapa ramah pria senja yang berdiri di belakang meja kasiar
“siap Kek Lin... santai aja kaya kita gak pernah kesini aja” sahut gadis muda cantik yang masuk paling awal dari rombonganya, di terimanya daftar menu itu dengan tangan kanan sembari tangan kirinya masih mengetik pesan di Hp
“aduh neng pangil Om dong... masak Kakek” senyum tuanya mengembang
“hah..” dengus pria tua yang kepalanya masih tersungkur di meja
“iya-iya Om Lin, tempat yang biasa ya? Ayo ah aku dah lapar” ujar gadis muda yang helemnya masih menempel di kepala. berjalan memimpin yang lainya ke sebuah meja lesehan di pojok ujung terjauh kafe tersebut.
“lo mau pesan apa?  Tre lo yang biasa kan..?” gadis yang memegang daftar menu, mulai menulis pesanan
“aku tambah rotibakar, sama...” dia melepaskan helemnya perlahan dan memperbaiki penampilanya yang ayu
“ni meja gue gabungin aja ya biar longar, rekomendasiin gue menu... terus...”satu satunya pemuda di rombongan itu mengerser-geser meja dengan ribetnya.
“heh... apa lo gak bisa suruh mereka diam atau semacamnya, berisik tahu!” grutu lirih pria senja mengakat sedikit kepalanya dari dasar meja
“ha..ha..ha... lo kira kita dulu waktu muda gak gitu..”tatap sinis bercapur senang dari Kakek Lin yang lebih suka dipangil Om Lin itu.
“mereka dah di sini” seorang pemuda bertanya ke pemudi yang di gandengnya
“kalo kata nya si uduah, paling di tempat biasa.” Sang pemudi clingak-clinguk begitu mereka measuki kafe tua di sebrang makam itu
“ah tu mereka” lambaian tangan sang pemuda pada pemuda lain yang masih mengeser-geser meja
“aku ke sana dulu, pesenin aku ya! kamu tahu apa yang aku suka..” lambaian sang pemudi pada pria pujaannya itu sambil melengan pergi dan betriak girang meminta sambutan para gadis yang lain,
“hah.. Om Lin yang biasa ya..” menyodorkan sebuah kartu plastik ke meja kasiar tanpa melepas pandang dari gadis yang mengisi hatinya.
“baru kelihatan kamu? kalian langeng ya...?” ejek Om Lin sambil menekan beberapa tombol di mesin kasir tua, dan mengembalikan kartu palastik itu setelah digesek tentunya beserta selemabr struk ke sang pemuda, pemuda yang  penampilanya nampak  kelelahan.
“ngobrolnya tar aja Om Lin gue ke sana dulu” memandang lekat ke pria tua di hadapanya sambil menunjuk meja di ujung kafe tempat gadisnya dan teman temannya berkerumun, dia melangkah sambil melirik tipis ke pria yang tersungkur di depan meja kasir.
“dasar itu bocah, itu elo tu jama muda..” pria senaja itu memperbaiki posisi duduknya, menyangga badannya denan sikinya, mukanya suguh tak sedap di pandang
“ha..ha...ha..bisa aja orang tua satu ini” tawa renyah Om Lin membahanan kembali, meski tak ada yang mendengarnya kepalanya melirik ke makam dibelang nya tepat di sebrang kafe yang sudah ia kelola lebih dari 10 tahun itu, tatapan sedih dipelupuk matanya.
“dasar lo kakek tua lo bela-belain beli ni kafe tua yang ampir abruk cuma biar deket sama istrimu aja” sindirnya penuh umpat, sambil meneguk botol yang memang sedari tadi menemaninya.
“eh tukang mabuk, kau fikir kalau buakan karena teman istriku yang di kubur di sebelahnya, lo mau dateng tiap hari ke bangunan reot yang nyaris bangkrut ini hah” Umpat Om Lin tanpa  melapas pandang dari nisan istrinya.
“heh.. ah mereka bertiga dasar...! sapa tu yang satu gue lupa namanya?”  mendorong sedikit botol di hadapanya menjauhinya
“si khel maksudmu?  iya di juga di kubur di sana  8 bulan lau, sayang cuma si Yuu aja yang gak tahu kemana rimbanya sekarang kudegar dia juga dah di kubur di kampungnya.. lo kapan nyusul udah gue siapin satu lubang lagi di sampin cewek lo tu..?” Ujar enteng kakek tua yang juga mulai berbau tanah
“setan lo, gue masih mau idup seribu tahun lagi masih ada yang harus gue kelarin dulu..”
“sumpah tadi lo keren banget ngMC nya di pangung? “puji gadis yang usai menulis menu menyerahkanya ke pelayan yang kebetulan lewat, matanya masih fokus ke layar HP dan mengetikan seuatu dengan kedua ibu jarinya
“aduh-duh..” rintih pemudi yang masih merasakan pijatan lembut dari orang yang katanya bukan pacarnya itu.
“makanya di lurusin kakinya” dengan lembut sang pemuda yang datang paling akhir itu berujar tampa megurangi gerakan tangan di kaki gadis yang ia suka itu
“goe gak negerti sama kalian bilangnya gak pacaran tapi kelauan kalin ini...?” pemuda yang lain masih saja mengerutu
“uah lo fokus aja ama dia!” menunjuk gadis yang masih merapikan penampilanya yang berantakan karena helam
“iya kamu juga gak uasah muji aku, kalo lagi chetingan ama dia, muji tapi kok matanya fokus ke hp” ujar sebal pemudi itu hanya di balas senyuman tanpa tatapan dari gadis yang utag dengan Hpnya
“jadi lo berdua dah sejauh mana bro?” tatap si pemuda tukang pijat pada pemuda dan gadis yang sedang sama-sama salah tingakah itu
“kita gak tahu, noting hapen bro!”saling tatap dengan gadis cantik dihadapanya dan menjawab
“Dasar kunyak, masik kecil udah sok-sokan jatuh cinta, pantes aja dunia makin ancur, apa kau tak bisa mengusir mereka atau semacamnya, mereka mengganggu pelangan mu tahu.” pria tua itu malai hilang sabar saat telinganya mulai merasa bising
“eh dasar tukang mabuk” beralih menatap tajam ke lawan bicaranya”yang mengganggu pelangan ku itu tukang mabuk kaya lo, lagi pula apa kau tak lihat tempat ini, mereka itu salah satu langanan ku” Om Lin membela pelangannya
“ini bos” sang pelayan menyela dan menyerahkan daftar pesanan kepada bosnya
“oh.. cepat kamu buat pesanan ini Jho” ujarnya kepada satu-satunya pelayan di kafe itu
“heh kau lihat kunyuk itu, itu kayak kau dan istrimu dulu, gak tahu otaknya didengkul apa, mau-maunya aja tu bocah jadi babu tu cewek. Kalian berdua sama tololnya”  Mengangkat sedikit jarinya dan mengarahkanya ke pemuda yang sedang memijit kaki pacarnya
“heh jaga bicaramu, namanya juga orang jatuh cinta” Om Lin tersenyum kecut sambil melirik kecil ke figura foto kecil di tepi meja kasirnya, fota dirinya dan sang istri saat mereka belum menikah dulu, masih sangat muda, sorot mata yang masih sangat cerah.
“heh.. cinta.. “ dengus sang pria senja melirik figura  yang sama
“kau lihat mereka, yang cowok dia sudah jadi langananku jauh lebih dulu dari yang lain, hidupnya berat aku sendiri tak terlalu jelas dengan ceritanya, tapi dari caranya bercerita kau akan tahu kalau Ia menjalani hidupnya dengan keras, sementara itu nono manis yang di sana itu yang sedang dipijit oleh tu bocah, kufikir juga sama getirnya, tak banyak yang ku dengar soal nana itu selain dia adalah gadis yang berprestasi, tapi aku selalu melihat senyum kepalsuan itu. Mereka saling melengkapai, dua lidi lebih baik kan dari pada satu, meski nantinya lidi itu akan patah juga” Om Lin menatap nanar dengan mata tuanya
“halah katakan itu pada istrimu, aku tak mau dengar bualanmu” dengus pria tua itu semari menjerembabkan kempali kepalanya ke dasar meja
“kau lihat dua pasang yang lain itu, yang pria baru pertama kali aku melihatnya, sepertinya dia yang sering dibicarakan oleh mereka yang katanya disukai oleh gadis yang tadi masih memakai helam itu. Mirip cerita seseorang saja, bukan kah begitu?” sindirnya ke pria tua di hadapannya
“heh....” makin menengelamkan wajahnya ke dasar meja,
“dasar pak tua, dia sudah lama mati kau masih meratapinya, kau masih merasa bersalah?, setidaknya kau dengarkan aku sedikit” bentaknya sekeras yang tidak bisa didengar pengunjung kafe yang lain
“teruskan saja ceritamu aku mendengarkan”denan kepala masil tertelungkup satu tanganya melambai memberikan isyarat untuk lenjutkan
“kalau aku sering menuping pembicaraan mereka sebelumnya, sepertinya sang peia juga suka pada sang wanita hanya saja dia seperi kau. Lelaki cemen yang gak bisa lepas dari cinta pertamanya”Om Lin melanjutkan ceritanya
“ lanjutkan-lanjutkan aku tak peduli” sambainya lagi sambil tanpa mengankat kepala dan terus ter terjerembab
“eh gimana kabrnya sekarang, kudengar dia sudah setua kita, siapa namanya?” Om Lin membuka luka lama
“sudahlah” akhirnya pria tua itu bangkit berdiri dan “ sudahlah aku harus pergi ada kuburan yang harus aku temui” melengang pergi tanpa pamit atau isyarat
“kenapa dia Kek Lin? O..ya berapa?” tanya seorang gadis yang masih ke layar HP nya
“bukan apa-apa. seperti biasa  hanya ditambah bocah laki-laki itu saja “ menunjuk layat, nomilan yang harus sang gadis bayar.
“O...” menempelkan hapenya ke pemindai pembayaran dan melengang kembali ke sudut terjauh kafe tersebut
“neng sudah berapa kali Om bilang  pangil Om saja jangan Kakek” teriak Om Lin sebelum sang gadis semakin jauh
“hehem..” sutas senyum dilempar ke sang kakek tua di balik meja kasir.
“udah di bayar?” tanya seorang pemudi yang kakinya sudah enakan
“makanan kita sudah aku yang bayar tadi” ujar penuh kasih sang pemuda
“hah apa iya, dah lah ayo pergi?” ujar sang gadis yang baru datang dari meja kasir itu. Sementara kedua muda-mudi yang lain masih canggung
“sampa jumpa lagi Kek Lin..” sapanya berpamitan pada sang penjaga mesin kasir 
"yow... Om Lin, cabut dulu" sang pemuda mengandeng gadisnya
“iya trimakasih neng, terimakasih semua” balas kehagatan Om Lin
“kalian bener bener ngajak makan didepan kuburan” setibanya di luar sang pemuda pengerutu memecah kecanggungannya denan mengedar kan mata ke makam di sebrang cafe.
. . .
“sekarang apa yang mau kau lakukan?” sang kakek pemabuk kembali
“sudah nyekarnya? Entah mungkin aku akan menutupnya begitu aku menyusul istriku. Kau sendiri...?” Om Lin mengedar sunyi ke seisi kafenya dan berakhir di pigura foto di sudut meja kasirnya
“Aku ? ada hal yang harus ku selesaikan, kuburnya kosong, dia masih belum mati...”



11 August 2018

sang Burung Cinta

Dialah sang burung cinta, pejantan terhebat di sarangnya, mengepakan sayapnya lebih dulu dari saudaranya, berani menantang sang mentari berdiri di ujung dahan tertinggi, mempertanggug  jawabkan mimpinya pada senyman induknya "Aku akan terbang hari ini!" lantang berujar saat Ia belum tahu bahwa untuk terbang dia perlu merentangkan sayapnya.

saat pertama kali mengudara, berdiri di atas kakinya sendiri, pertama kali Ia meninggalkan sarangnya tak pernah ada niatan untuk kembali, mencari makan itu yang diajarkan sang Ibu, bertahan hidup itu yang dilatih sang Ayah, miliki kehidupan dan bersenang-senang itu yang selalu dikatakan saudaranya. Hidup terus, terus, dan terus berkelana, terus berjuang sampai Ia dewasa dan...? musim kawinpun tiba...

musim panas yang panjang tanpa makanan, musim gugur tanpa dahan pohon, musim dingin tanpa dekapan hangat sayap sang bunda, Ia terus bertahan, hingga tiba musim semi nan indah, langit yang cerah, mentari berkilauan, angin semilir lembut, dan burung-burung berkicau saling sahut-menyahut tentang rasa. apa itu? "aku tak mengerti" tahun itu bukan lah gilirannya untuk mengerti, saat dia melihat para pejantan bekerja keras, bernyanyi, saat melihat apa yang terjadi di musim sebelumnya, dan di akhir musim semi dia sadar.

saat musim panas tanpa makanan, telur-telur baru mulai menetas, saat musim gugur tanpa dahan bayi burung belajar terbang, saat musim dingin tanpa kehangatan, sarang adalah tempat idaman, dan semua itu terjadi karena jenis dari sang ibu, Burung Betina...

Ia mulai bertanya pada dunia, "apa yang harus dilakukan untuk memiliki kebahagiaan" sang Pohon menjawab "terbang;ah dan panjatlah dahan tertinggi, sang angin berkata "kumpulkanlah biji kenari di musim ini". sang bijak bilang "bangunlah sarang terbaik di dahan tertinggi pohon kenari"

Ia menghabiskan seluruh musim untuk mengupulkan ranting, seluruh musim untuk mengumulkan biji kenari, selurh musim untuk mencapai dahan tertinggi, tapi tanpa sadar Ia berlomba dengan para burung jantan lain untuk membangun sarang terbaik.

saat nyanyian burung  betina mulai merdu tertengar, Ia berdiri di puncak dahan tertinggi dan berkicau gagah, sang pujaan hati pun datang menghampiri, masuk ke dalam sarang terbaik, mencicipi butiran biji ribuan kenari, dan terbang pergi...pergi begitu saja untuk hinggap ke sarang di dahan yang lebih tinggi.

"Aku tak butuh ini" sang jantan terbang pergi, kembali berkelana di ujung tahun musim semi, tak butuh sarang di pucuk pohon kenari, tak butuh nyanyian merdu ini, dan hanya pergi, dan kembali mencari ranting di musim panas.

dan... sepasang burung tanpa sarang meletakan telurnya di puncak dahan tertinggi pohon kenari yang di tinggalkan dan salah satu telur itu adalah pejantan tehebat di sarangnya, yang akan menantang dunia serta terus mencari hingga menjadi sepasang burung tak bersarang.


Y.N.Widyatno

08 August 2018

Memekakan Telinga

Pernah kah kau merasa sekeras apa pun musik yang kau dengar tapi tak pernah menggerakkan hatimu, meski sangat terasa memekakan telinga, hingga kau sakit karenanya, tapi tak ada satu pun nada yang mencapai mu.

Sekeras apapun suara bass yang kau dengar, sekaras apa pun volume yang kau setel, atau sekeras apa genre musik yang kau pilih, semua itu tak lebih dari suara yang menyakiti telinga.

Saat berada di keramaian, saat dimana semua orang tertawa lepas, saat dimana kau tak ingat atau tak ingin mengingat segala hal, tapi sebaliknya yang kau rasa, semua minuman dan senyuman atau bahkan tawa itu tak pernah mengubah perasaan mu.

Seberapa banyak pesan yang kau tuliskan, seberapa banyak pun itu takakan pernah merubah senyum di wajah mu, hanya kau tulis saja tanpa ekspresi yang dirasa.

Saat dimana kau menuju suatu tempat tapi tak penting arti dari perjalanan itu, yang ada autopilot yang kau aktifkan, entah kapan kau tiba-tiba saja ada di sana.

Saat dimana kau merindukan sesuatu, tapi entah apa, saat dimana kau tak tahu, atau tak mau tahu, saat suara musik yang kau dengar menjadi semakin keras, semakin keras, semakin memekakan telinga, tanpa sadar semu telah kembali ke track awal.

Saat kau tak merasa senang akan keberhasilan, dan tak sedih saat kegagalan, atau tak peduli akan kehidupan, atau mungkin berpikir untuk apa hidup dalam keberpura-puraan, yakin lah suara yang memekakan telinga itu nyata, rasa sakit yang kau rasa itu nyata, dan kau masih bisa merasakan sakit, kau masih bisa merasakan bahwa kau tidak merasakan apa-apa & itu nyata!

Percayalah semua gigitan frustrasi yang kau lakukan ke tangan mu sendiri itu hanya sebuah rasa sakit sesaat, saat kau bangun di esok pagi semu rasa sakit itu hanya mimpi, dunia yang kejam akan memaksa mu untuk kembali hidup, hidup, meski hidup tanpa jiwa, setidaknya hidup kan?

Lalu apa peduli ku dengan semua kelelahan ini, hanya rasa lelah mu saja, aku tak pernah menanggung dosanya, lalu apa peduliku? itu masalah mu.

Apa pun itu lebih baik kau mati saja membusuk dalam kesendirian atau semacamnya, itu terdengar jauh lebih baik bagimu, atau menua bersama kesepian, atau kau pilih berdamai saja dengan kepedihan, lalu apa peduliku? sekalipun kau membusuk di sana secara perlahan tetap saja tak ada senyuman di wajahmu, tetap saja tak ada hal yang kau dapat, lalu apa peduliku?

Saat dimana semua suara itu semakin memekakan telinga. saat dimana kau semakin membusuk perlahan disana, itulah aku yang berdamai dengan kepedihan mu. Andai aku muak pun, aku takakan meninggalkan mu. tak peduli seberapa keras kau menolaknya, tak peduli seberapa keras kau tak peduli, karena aku adalah suara yang memekakan telinga mu.

Baca Juga !