pada zaman dahulu, saat nusantara masih berbentuk kerajaan, hiduplah seorang pandai besi bernama mpu Bagobo. namanya telah kondang seantero kerajaan sebagai seorang ahli pembuat keris, keri-kerisnya sangat luar biasa saktinya, kalao dibandingkan dengan keris lekuk tujuhnya Mpu Gandring di zaman majapahit dapat dibilang sebelas duabelas.
Meskipun dipanggil Mpu tapi sebenarnya Ia tidak setua yang dibayangkan, memang benar masa mudanya dihabiskan untuk bertapa, dan setelahnya setelah Ia turun gunung dan membuka bengkel pandai besinya sendiri, saat namanya mulai terkenal, saat keris buatannya telah kondang ke seluruh kerajaan Ia menikahi gadis pujaannya yang tak lain adalah teman masa kecilnya sendiri, dan di tahun-tahun berikutnya Mpu Bagobo dan gadis yang sekrang menjadi istrinya hanya fokus tentang bagai mana membuat keris yang jauh lebih sakti lagi.
tahun-tahun itu terus berlalu seiring mulai banyaknya pesanan keris bahkan dari raja-raja di kerajaan seberang lautan, akhirnya Mpu Bagobo merasa sudah saatnya mereka mencari pengganti dan penerus bengkel pandai besi itu. tak butuh waktu lama setelah Mpu Bagobo bertapa selama beberapa waktu, sang istri melahirkan seorang anak yang kelak akan mewarisi seluruh ilmu dan keahlian menempa ayahnya, namun kelahiran anak ini harus dibayar mahal dengan kematian sang istri. ditambah lagi sang anak adalah seorang bayi perempuan yang cantik. menjadikan Mpu Bagobo hilang harapan, dimasa itu bengkel pandai besi adalah tempat yang tak boleh diinjak oleh seorang wanita, sama halnya Istrinya saja tak pernah sekalipun menginjakkan kaki di bengkel suaminya apalagi menyentuh keris yang sedang ditempa, selain itu adalah hal yang dilarang, semua orang saat itu percaya bahwa keris yang tersentuh kesucian hati seorang wanita maka akan luluh dan hilang segala kuasanya.
semua mulai berantakan. kini keris buatan Mpu Bagobo tak bernyawa seperti dulu, banyak pelanggannya yang kecewa, meski begitu mereka masih percaya bahwa sang Mpu mapu membuat keris yang tak ada tandingannya, tapi karena rasa sedinya Ia mulai menolak semua pesanan beserta kereta-kereta emas permata yang dibawa sebagai mahar pembuatan kerisnya, bengkelnya kini tutup, terbengkalai tak ubahnya kandang kuda saja, dan harinya hanya dihabiskan di meja judi dan mabuk-mabukan, hingga dia kehilangan anak gadisnya di meja judi.
Mpu Bagobo masih memiliki semua kesaktiannya, tak ada orang yang berani menantangnya di meja judi kecuali orang itu berniat kehilangan segalanya, miskin tujuh turunan, banyak yang bilang kalo Mpu Bagobo punya ilmu nujum Ia bisa tahu masa depan. tapi di malam itu seorang bandit menipunya, mencurangi Mbu Bagobo saat Ia telah mempertaruhkan segalanya termasuk anak dan harga dirinya sebagai seorang pandai besi, kala itu sang anak masih berusia 3 tahun saat diseret dan dijadikan budak oleh sang bandit, Kini Mpu Bagobo mulai hilang akal dan para warga yang jenkel dengan kelakuannya yang tak waras, mengasingkannya ke gubuk kecil di pinggir hutan jauh dari kerajaan, sekarang Ia menua dan dibiarkan membusuk di sana.
Sudah 20 tahun sejak kejadian itu, kini ditempat dimana Mpu bagobo diasingkan didatangi puluhan pasukan berkuda dari kerajaan, salah satu dari pengendara kuda itu turun dan masuk kemudian berkata bahwa Mpu Bagobo diminta menghadap sang raja, orang sinting nyaris 100 tahun lebih itu sontak menolak, hingga terpaksa harus di seret oleh pasukan berkuda itu untuk bertemu sang raja, Sebenarnya Mpu Bagobo tak pernah benar-benar kehilangan semua akalnya, hanya saja botol tuak yang selalu dibawanya lah yang membuatnya tak bisa berfikir jernih. Ia sudah bisa menebak kenapa sang raja ingin bertemu dengannya.
Benar saja begitu Mpu Bagobo dipaksa berlutut di bawah singgasana sang raja, terbakannya terbukti benar, sang raja meminta untuk dibuatkan sebuah keris yang lebih hebat dari semua keris yang pernah dibuat oleh Mpu Bagobo selama 50 tahun karirnya sebagai seorang pandai besi, lebih kuat dari semua keris yang dimiliki oleh para Patih dan Raja-Raja di kerajaan lain, lebih sakti dari semua keris sakti yang diketahui di dunia ini. dia menawarkan imbalan yang pantas 10% dari produksi tambang emas kerajaan adalah miliknya dan anak keturunannya jika Ia sanggup membuatnya.
Mbu Bagobo menyempatkan meneguk isi botol tuaknya sebelum menjawab, dengan muka merah pucat khas seorang pemabuk, dia berfikir sejenak. sambil ngelantur kakek berjengot putih panjang itu menajawab tentang apa yang terjadi jika dia menolak permintaan sang Raja, sang raja membenarkan Ia memang berniat memenggal kepala sang Mpu saat itu juga jika Ia menolak atau gagal mewujudkan keinginan sang Raja. sepertinya rakyat tidak akan keberatan jika seorang pria tua pemabuk dipenggal kepalanya begitu ujar sang raja
Paham resikonya Mpu Bagobo menaikkan taruhannya, sambil cegukan karena tuaknya Ia mengajukan tiga syarat: pertama dia mau selama proses pembuatan keris tersebut Ia diberikan kuasa penuh termasuk mengambil alih bengkel pandai besi kerajaan, dan meminta seribu orang prajurit untuk mengawalnya mengambil bahan baku keris jauh ke pelosok negeri. sang raja tak terlalu keberatan, syarat kedua masalah bayaran Mpu Bagobo hanya meminta separuh wilayah kerajaan diberikan kepadanya karena Ia tahu kalau keris itu akan digunakan untuk menaklukkan kerajaan-kerajaan seberang, sang raja hanya tersenyum, dan syarat ketiga jika Ia berhasil menyelesaikan tugasnya Ia meminta bonus dinikahkan dengan anak gadis semata wayang sang raja yang kala itu masih berumur 20 tahunan, sang raja terdiam sejenak kemudian meminta pengawal untuk memenggal kepal orang gila di hadapannya sekarang juga.
Naas bagi sang Mpu hinga tetes terakhir tuaknya habis kepalanya masih di tempatnya, belum ada satu prajurit pun yang berhasil memenggalnya, menyentuh baju sang Mpu pun tak bisa, entah berapa puluh prajurit yang dikeluarkan tapi semuanya terkapar sebelum berhasil menyerang sang orang gila, para Patih yang memperhatikan mulai berdiskusi tentang ajian "ngusah nogo" ajian mengusir naga dimana pemilik ajian ini tak bisa disentuh oleh siapapun bahkan naga sekalipun. ajian ini biasanya dimiliki dan dipakai oleh para petapa agar tak ada mara bahaya yang mengganggu tapannya, konon itu cuma legenda karena hanya orang yang telah bertapa selama seribu tahunlah yang memilikinya, dan semua orang tahu tidak ada yang hidup selama itu. tapi melihat posisi sang Mpu yang berbaring miring dengan satu tangan menyangga kepala dan tangan yang lain memegang botol tuak di mulutnya dan posis kaki yang "tengkreng" setengah bersila sebelah, jelas itu adalah posisi "topo mendem" atau tapa mabuk. yang konon hanya di lakukan oleh "Raja Tuak" yakni orang yang tidak akan mabuk sekalipun meminum arak sebanyak apaun.
Penasehat kerajaan mulai berbisik ke sang raja, dan raja pun memberikan perintah untuk menghentikan serangan, Mpu Bagobo membuka matanya yang semuala terpejam lelap lalu bangkit bersila meletakkan botol tuknya dan berteriak agar botol itu diisi kembali oleh pelayan kerajaan. sementara prajurit yang lain membantu mengankat tubuh rekan mereka yang terkapar karena terpental oleh ajaian ngusah nogo Mpu Bagobo. saat pelayan kerajaan keluar mebawa ketel berisi tuak untuk di tuang ke botol si peminta, sang raja menahanya dan mengabil ceret itu lalu mendatangi sendiri Mpu Bagobo. untuk mengisi kan botol tuaknya. sambil berbisik di telinga Mpu Bagobo.....
Bersmbung.....
27/November
/2018 y.n.widyatno
No comments:
Post a Comment