13 bangunan di kompleks perguruan DarmaPrana menjadi saksi bisu, ke tujuh pemuda
dikumpulkan di aula tengah antara gerbang barat dan bangunan ke 3, wajah
mereka tampak merona bahagia, tangan-tangan mengepal kuat seakan siap
menerima tugas berat apa pun, ini adalah saat yang mereka tunggu setelah bertahun-tahun dilatih melewati semua rintangan, inilah tugas terakhir agar bisa lulus dari perguruan dan pulang untuk turun gunung.
Rumor mengatakan bahwa tak banyak yang bisa lulus dari perguruan ini, kebanyakan mereka mati di pelatihan atau tewas saat menjalankan tugas, tapi berbeda tim ini memiliki segalanya, segala yang dibutuhkan untuk dapat menyelesaikan tugas apa pun terbukti dari hanya 3 orang teman mereka saja yang mati dalam pelatihan, sisanya mereka berhasil seratus persen sempurna dalam setiap tugas, sebuah rekor pencapaian luar biasa selama beberapa ratus tahun terakhir dan mungkin akan bertahan untuk beberapa ratus tahun ke depan. kokompakan tim yang hebat, pimpinan yang berwibawa, otak ahli setrategi, ahli penyamaran, persediaan bahan peledak, penguasaan tenaga dalam level puncak, persenjataan terbaik, dan semangat mental yang begitu siap, siap untuk bertemu kembali dengan keluarga di rumah
Entah sudah berapa lama mereka tak pulang, yang mereka ingat saat terakhir mereka memeluk sang Ibu, mereka tak setinggi bahunya, berpisah dan masuk ke perguruan untuk memperoleh hidup yang baik sebagai pendekar di dunia kelam ini. itu pikir sang Ayah saat membawa mereka kemari, entah berapa tahun, entah seperti apa rupa mereka kini, ke tujuh pemuda telah tak sabar.
Derap langkah dari guru Fiher
mengheningkan suasana, Dia tak lain adalah tetua sekaligus salah satu
master di DarmaPrana yang bertanggung jawab atas pelatihan ke tujuh pemuda , seosok tua bejangut putih itu berputar melewati setiap wajah ketujuh bujang tak berdosa.
"ini
adalah tugas berat untuk kalian! nyawa kalian taruhannya." garangnya
sambil menepuk seorang pendek kecil dengan gelar tertinggi, pimpinan
dari ke semua pemuda yang ada di aula tengah. Zeen... begitu Ia sering
disebut oleh sang guru, berbadan kecil, berambut cepak, tubuh kurus kering bak
kulit kacang namun dengan kemampuan yang tak diragukan, tubuh kecil
yang mampu melumat lawanya.
"apa tugas untuk kami wahai guru Fiher?" dengan sigap Zeen bertanya
"mudah.." jawab sang guru dengan lirih,
angin berhembus sunyi, daun gugurpun berhenti...
"Aku butuh dua yang terbaik dari kalian." hentak keras sang guru
"apa guru...? "Yuto sang ahli taktik tak percaya
"bukankah kita dilatih untuk selalu bersama, kami seakan satu tubuh itu yang guru ajarkan?" tanbah Trik dari barisan paling belakang.
guru Fiher hanya tersenyum tertegun lalu berkata
"Apa kalian tidak siap dengan tugas ini?"
"YouuBooHooo..." kompak semua dari ketujuh pemuda, pertanda mereka menerima perintah, meski keraguan tampak dari setiap wajah bujang itu.
sang guru bertepuk tangan dan berkata
" pergilah kalian yang bernyali tempe dari hadapanku!" seketika semua larian setiap pemuda yang takut akan kegagalan bergema mereka yang takut akan kematian. Fifer sang ahli peledak , Walming sang ahli jebakan, Funding sang ahli penyamaran dan kesemua anggota regu yang takut untuk berpisah dengan raga mereka.
tersisa Zeen , Yuto dan terakhir si bocah bawang Mals, Mals anggota termuda dan paling tak berguna dalam regu, kebodohanya telah kondang seantero jagat Perguruan DarmaPrana, bahkan ketiga temannya mati karena menyelamatkannya saat pelatihan.
Yuto sang ahli siasat tampak bimbang melihat rekan yang dapat mensuksekan tugasnya telah pergi
"meski aku punya taktik seribu rubahpun tanpa semuah ahli di timku ini tidak akan berhasil, ini sia-sia yang ada malah mati konyol karena tugas dari guruku, jika aku maju aku akan mati, kalau aku lari tak mungkin nama besar Ku dipertaruhkan aku tak mungkin pulang dengan membawa malu, apalagi tak mungkin aku tinggalkan Bos Zeen bersama bocah bawang tanpa bakat ini... bagai mana sekarang"
Malse tampak tenang cuma ada tiga pilihan baginya baik bersama Yuto atau Pun Mals itu bukan masalah, sekalipun dia seorang diri ditingalkan oleh semua anggota timnya Dia akan tetap hidup kalau pun mati baginya ini adalah sebuh kehormatan, sang ketua tertinggi, Bos yang sangat disegani, pimpinan yang sanggup tuk mati Zeen tersenyum tipis seakan tahu apa yang di khayal anak buahnya.
"kemarilah..!" seru sang guru
ketiga bujang terakhir mendekat, dengan suara lirih beliau berucap
"aku hanya butuh dua dari kalian..? Zeen pilih rekanmu!"
seketika Yuto berseru "aku lebih memilih keluar dari perguruan ini daripada mati, dasar sial"
"pergilah" lambaian tangan sang guru, kekuatan tenaga dalamnya membelah udara mendorong gerbang hingga terbuka lebar, gerbang besi merah besar yang biasanya hanya bisa terbuka dengan tenag enama sampai sepuluh orang pria dewasa ini begitu ringan tertiup angin di hadapan sang master.
Yuto sang ahli siasat memilih hidup dengan rasa malu daripada mati.
"aku tetap akan melaksanakan tugas ini bersama Mals apapun taruhanya!" tekat bulat Zeen.
"kamu yakin akan berhasil..? kau telah kehilangan semua anak buahmu, semua siasat Mu, semua jebakan, dan semua penyamaran, serta hal lain bisa mensukseskan tugasmu, yang Kau punya hanya dia bocah bawang ingusan ini, bukankah ini terdengar seperti mengantarkan nyawa bagimu?" tantang sang guru
semilir angin mendayu daun telinga, mengoyahkan setiap jiwa yang bimbang, tatapan mata penuh arti, raungan jiwa penuh mimpi, semua ketakutan seakan tumbang dengan suara....
"bukankah kami dilatih untuk itu " jawab cuek Mals dengan santainya
Guru fiher tersenyum dan menghentak
"apa kalian yakin....!"
"YouuBooHoo...!"seru kompak lantan Zeen dan Mals
"baik jika itu keputusan kalian"
Jantung berdebar, nadi terdengar, tangan mengepal keras, tubuh layu, setiap hirupan nafas....
"tugas kalian.....
....Ambilkan Aku Segelas Air"
No comments:
Post a Comment