13 August 2018

Obrolan Depan Makam


“kalian yakin ni ngajak makan di sini” seorang pemuda menyipitkan matanya dan mengedar sejauh yang ia bisa
“iya kenapa?” dengan tanpa rasa bersalah seorang gadis muda menjawab polos sambil megeluarkan HPnya
“inikan depan makam, kalian ngajak aku makan didepan kuburan” grutu sang pemuda
“udah ah ayo masuk..”ajak gadis muda yang lain tanpa melepas helemnya
“Jho... itu ada tamu..” seorang pria senja berusia 60 tahun yang berdiri di balik meja kasir memangil pemuda yang sedang mencatat pesanan salah seorang tamu kafe
“napa si lo triak-triak” seorang pria yang usianya tak jauh beda sama senjanya, menyahuti dengan grutuan, kepalanya masih tersungkur di depan meja kasir, dia nampak berantakan, sungguh tak pantass dengan usianya
“ha...ha...ha..” tawa yang cukup keras membahana, tapi tak terdengar oleh pengunjung kafe tua itu, lagi pula selain tamu yang sedang dicatat pesananya oleh seorang pelayan, hanya ada pria tua yang tersungkur itu, dan segrombolan remaja yang baru masuk tadi.
“kita mau duduk di mana?” sang pemuda masih mengerutu
“neng ini menunya! catat sendiri saja pesananya biar gampang, nanti bawa sisi lagi ya. Gak papa kan” sapa ramah pria senja yang berdiri di belakang meja kasiar
“siap Kek Lin... santai aja kaya kita gak pernah kesini aja” sahut gadis muda cantik yang masuk paling awal dari rombonganya, di terimanya daftar menu itu dengan tangan kanan sembari tangan kirinya masih mengetik pesan di Hp
“aduh neng pangil Om dong... masak Kakek” senyum tuanya mengembang
“hah..” dengus pria tua yang kepalanya masih tersungkur di meja
“iya-iya Om Lin, tempat yang biasa ya? Ayo ah aku dah lapar” ujar gadis muda yang helemnya masih menempel di kepala. berjalan memimpin yang lainya ke sebuah meja lesehan di pojok ujung terjauh kafe tersebut.
“lo mau pesan apa?  Tre lo yang biasa kan..?” gadis yang memegang daftar menu, mulai menulis pesanan
“aku tambah rotibakar, sama...” dia melepaskan helemnya perlahan dan memperbaiki penampilanya yang ayu
“ni meja gue gabungin aja ya biar longar, rekomendasiin gue menu... terus...”satu satunya pemuda di rombongan itu mengerser-geser meja dengan ribetnya.
“heh... apa lo gak bisa suruh mereka diam atau semacamnya, berisik tahu!” grutu lirih pria senja mengakat sedikit kepalanya dari dasar meja
“ha..ha..ha... lo kira kita dulu waktu muda gak gitu..”tatap sinis bercapur senang dari Kakek Lin yang lebih suka dipangil Om Lin itu.
“mereka dah di sini” seorang pemuda bertanya ke pemudi yang di gandengnya
“kalo kata nya si uduah, paling di tempat biasa.” Sang pemudi clingak-clinguk begitu mereka measuki kafe tua di sebrang makam itu
“ah tu mereka” lambaian tangan sang pemuda pada pemuda lain yang masih mengeser-geser meja
“aku ke sana dulu, pesenin aku ya! kamu tahu apa yang aku suka..” lambaian sang pemudi pada pria pujaannya itu sambil melengan pergi dan betriak girang meminta sambutan para gadis yang lain,
“hah.. Om Lin yang biasa ya..” menyodorkan sebuah kartu plastik ke meja kasiar tanpa melepas pandang dari gadis yang mengisi hatinya.
“baru kelihatan kamu? kalian langeng ya...?” ejek Om Lin sambil menekan beberapa tombol di mesin kasir tua, dan mengembalikan kartu palastik itu setelah digesek tentunya beserta selemabr struk ke sang pemuda, pemuda yang  penampilanya nampak  kelelahan.
“ngobrolnya tar aja Om Lin gue ke sana dulu” memandang lekat ke pria tua di hadapanya sambil menunjuk meja di ujung kafe tempat gadisnya dan teman temannya berkerumun, dia melangkah sambil melirik tipis ke pria yang tersungkur di depan meja kasir.
“dasar itu bocah, itu elo tu jama muda..” pria senaja itu memperbaiki posisi duduknya, menyangga badannya denan sikinya, mukanya suguh tak sedap di pandang
“ha..ha...ha..bisa aja orang tua satu ini” tawa renyah Om Lin membahanan kembali, meski tak ada yang mendengarnya kepalanya melirik ke makam dibelang nya tepat di sebrang kafe yang sudah ia kelola lebih dari 10 tahun itu, tatapan sedih dipelupuk matanya.
“dasar lo kakek tua lo bela-belain beli ni kafe tua yang ampir abruk cuma biar deket sama istrimu aja” sindirnya penuh umpat, sambil meneguk botol yang memang sedari tadi menemaninya.
“eh tukang mabuk, kau fikir kalau buakan karena teman istriku yang di kubur di sebelahnya, lo mau dateng tiap hari ke bangunan reot yang nyaris bangkrut ini hah” Umpat Om Lin tanpa  melapas pandang dari nisan istrinya.
“heh.. ah mereka bertiga dasar...! sapa tu yang satu gue lupa namanya?”  mendorong sedikit botol di hadapanya menjauhinya
“si khel maksudmu?  iya di juga di kubur di sana  8 bulan lau, sayang cuma si Yuu aja yang gak tahu kemana rimbanya sekarang kudegar dia juga dah di kubur di kampungnya.. lo kapan nyusul udah gue siapin satu lubang lagi di sampin cewek lo tu..?” Ujar enteng kakek tua yang juga mulai berbau tanah
“setan lo, gue masih mau idup seribu tahun lagi masih ada yang harus gue kelarin dulu..”
“sumpah tadi lo keren banget ngMC nya di pangung? “puji gadis yang usai menulis menu menyerahkanya ke pelayan yang kebetulan lewat, matanya masih fokus ke layar HP dan mengetikan seuatu dengan kedua ibu jarinya
“aduh-duh..” rintih pemudi yang masih merasakan pijatan lembut dari orang yang katanya bukan pacarnya itu.
“makanya di lurusin kakinya” dengan lembut sang pemuda yang datang paling akhir itu berujar tampa megurangi gerakan tangan di kaki gadis yang ia suka itu
“goe gak negerti sama kalian bilangnya gak pacaran tapi kelauan kalin ini...?” pemuda yang lain masih saja mengerutu
“uah lo fokus aja ama dia!” menunjuk gadis yang masih merapikan penampilanya yang berantakan karena helam
“iya kamu juga gak uasah muji aku, kalo lagi chetingan ama dia, muji tapi kok matanya fokus ke hp” ujar sebal pemudi itu hanya di balas senyuman tanpa tatapan dari gadis yang utag dengan Hpnya
“jadi lo berdua dah sejauh mana bro?” tatap si pemuda tukang pijat pada pemuda dan gadis yang sedang sama-sama salah tingakah itu
“kita gak tahu, noting hapen bro!”saling tatap dengan gadis cantik dihadapanya dan menjawab
“Dasar kunyak, masik kecil udah sok-sokan jatuh cinta, pantes aja dunia makin ancur, apa kau tak bisa mengusir mereka atau semacamnya, mereka mengganggu pelangan mu tahu.” pria tua itu malai hilang sabar saat telinganya mulai merasa bising
“eh dasar tukang mabuk” beralih menatap tajam ke lawan bicaranya”yang mengganggu pelangan ku itu tukang mabuk kaya lo, lagi pula apa kau tak lihat tempat ini, mereka itu salah satu langanan ku” Om Lin membela pelangannya
“ini bos” sang pelayan menyela dan menyerahkan daftar pesanan kepada bosnya
“oh.. cepat kamu buat pesanan ini Jho” ujarnya kepada satu-satunya pelayan di kafe itu
“heh kau lihat kunyuk itu, itu kayak kau dan istrimu dulu, gak tahu otaknya didengkul apa, mau-maunya aja tu bocah jadi babu tu cewek. Kalian berdua sama tololnya”  Mengangkat sedikit jarinya dan mengarahkanya ke pemuda yang sedang memijit kaki pacarnya
“heh jaga bicaramu, namanya juga orang jatuh cinta” Om Lin tersenyum kecut sambil melirik kecil ke figura foto kecil di tepi meja kasirnya, fota dirinya dan sang istri saat mereka belum menikah dulu, masih sangat muda, sorot mata yang masih sangat cerah.
“heh.. cinta.. “ dengus sang pria senja melirik figura  yang sama
“kau lihat mereka, yang cowok dia sudah jadi langananku jauh lebih dulu dari yang lain, hidupnya berat aku sendiri tak terlalu jelas dengan ceritanya, tapi dari caranya bercerita kau akan tahu kalau Ia menjalani hidupnya dengan keras, sementara itu nono manis yang di sana itu yang sedang dipijit oleh tu bocah, kufikir juga sama getirnya, tak banyak yang ku dengar soal nana itu selain dia adalah gadis yang berprestasi, tapi aku selalu melihat senyum kepalsuan itu. Mereka saling melengkapai, dua lidi lebih baik kan dari pada satu, meski nantinya lidi itu akan patah juga” Om Lin menatap nanar dengan mata tuanya
“halah katakan itu pada istrimu, aku tak mau dengar bualanmu” dengus pria tua itu semari menjerembabkan kempali kepalanya ke dasar meja
“kau lihat dua pasang yang lain itu, yang pria baru pertama kali aku melihatnya, sepertinya dia yang sering dibicarakan oleh mereka yang katanya disukai oleh gadis yang tadi masih memakai helam itu. Mirip cerita seseorang saja, bukan kah begitu?” sindirnya ke pria tua di hadapannya
“heh....” makin menengelamkan wajahnya ke dasar meja,
“dasar pak tua, dia sudah lama mati kau masih meratapinya, kau masih merasa bersalah?, setidaknya kau dengarkan aku sedikit” bentaknya sekeras yang tidak bisa didengar pengunjung kafe yang lain
“teruskan saja ceritamu aku mendengarkan”denan kepala masil tertelungkup satu tanganya melambai memberikan isyarat untuk lenjutkan
“kalau aku sering menuping pembicaraan mereka sebelumnya, sepertinya sang peia juga suka pada sang wanita hanya saja dia seperi kau. Lelaki cemen yang gak bisa lepas dari cinta pertamanya”Om Lin melanjutkan ceritanya
“ lanjutkan-lanjutkan aku tak peduli” sambainya lagi sambil tanpa mengankat kepala dan terus ter terjerembab
“eh gimana kabrnya sekarang, kudengar dia sudah setua kita, siapa namanya?” Om Lin membuka luka lama
“sudahlah” akhirnya pria tua itu bangkit berdiri dan “ sudahlah aku harus pergi ada kuburan yang harus aku temui” melengang pergi tanpa pamit atau isyarat
“kenapa dia Kek Lin? O..ya berapa?” tanya seorang gadis yang masih ke layar HP nya
“bukan apa-apa. seperti biasa  hanya ditambah bocah laki-laki itu saja “ menunjuk layat, nomilan yang harus sang gadis bayar.
“O...” menempelkan hapenya ke pemindai pembayaran dan melengang kembali ke sudut terjauh kafe tersebut
“neng sudah berapa kali Om bilang  pangil Om saja jangan Kakek” teriak Om Lin sebelum sang gadis semakin jauh
“hehem..” sutas senyum dilempar ke sang kakek tua di balik meja kasir.
“udah di bayar?” tanya seorang pemudi yang kakinya sudah enakan
“makanan kita sudah aku yang bayar tadi” ujar penuh kasih sang pemuda
“hah apa iya, dah lah ayo pergi?” ujar sang gadis yang baru datang dari meja kasir itu. Sementara kedua muda-mudi yang lain masih canggung
“sampa jumpa lagi Kek Lin..” sapanya berpamitan pada sang penjaga mesin kasir 
"yow... Om Lin, cabut dulu" sang pemuda mengandeng gadisnya
“iya trimakasih neng, terimakasih semua” balas kehagatan Om Lin
“kalian bener bener ngajak makan didepan kuburan” setibanya di luar sang pemuda pengerutu memecah kecanggungannya denan mengedar kan mata ke makam di sebrang cafe.
. . .
“sekarang apa yang mau kau lakukan?” sang kakek pemabuk kembali
“sudah nyekarnya? Entah mungkin aku akan menutupnya begitu aku menyusul istriku. Kau sendiri...?” Om Lin mengedar sunyi ke seisi kafenya dan berakhir di pigura foto di sudut meja kasirnya
“Aku ? ada hal yang harus ku selesaikan, kuburnya kosong, dia masih belum mati...”



No comments:

Baca Juga !