“kalian
yakin ni ngajak makan di sini” seorang pemuda menyipitkan matanya dan mengedar
sejauh yang ia bisa
“iya
kenapa?” dengan tanpa rasa bersalah seorang gadis muda menjawab polos sambil
megeluarkan HPnya
“inikan
depan makam, kalian ngajak aku makan didepan kuburan” grutu sang pemuda
“udah
ah ayo masuk..”ajak gadis muda yang lain tanpa melepas helemnya
“Jho...
itu ada tamu..” seorang pria senja berusia 60 tahun yang berdiri di balik meja
kasir memangil pemuda yang sedang mencatat pesanan salah seorang tamu kafe
“napa
si lo triak-triak” seorang pria yang usianya tak jauh beda sama senjanya,
menyahuti dengan grutuan, kepalanya masih tersungkur di depan meja kasir, dia
nampak berantakan, sungguh tak pantass dengan usianya
“ha...ha...ha..”
tawa yang cukup keras membahana, tapi tak terdengar oleh pengunjung kafe tua
itu, lagi pula selain tamu yang sedang dicatat pesananya oleh seorang pelayan,
hanya ada pria tua yang tersungkur itu, dan segrombolan remaja yang baru masuk
tadi.
“kita
mau duduk di mana?” sang pemuda masih mengerutu
“neng
ini menunya! catat sendiri saja pesananya biar gampang, nanti bawa sisi lagi
ya. Gak papa kan” sapa ramah pria senja yang berdiri di belakang meja kasiar
“siap
Kek Lin... santai aja kaya kita gak pernah kesini aja” sahut gadis muda cantik
yang masuk paling awal dari rombonganya, di terimanya daftar menu itu dengan
tangan kanan sembari tangan kirinya masih mengetik pesan di Hp
“aduh
neng pangil Om dong... masak Kakek” senyum tuanya mengembang
“hah..”
dengus pria tua yang kepalanya masih tersungkur di meja
“iya-iya
Om Lin, tempat yang biasa ya? Ayo ah aku dah lapar” ujar gadis muda yang
helemnya masih menempel di kepala. berjalan memimpin yang lainya ke sebuah meja
lesehan di pojok ujung terjauh kafe tersebut.
“lo
mau pesan apa? Tre lo yang biasa kan..?”
gadis yang memegang daftar menu, mulai menulis pesanan
“aku
tambah rotibakar, sama...” dia melepaskan helemnya perlahan dan memperbaiki
penampilanya yang ayu
“ni
meja gue gabungin aja ya biar longar, rekomendasiin gue menu... terus...”satu
satunya pemuda di rombongan itu mengerser-geser meja dengan ribetnya.
“heh...
apa lo gak bisa suruh mereka diam atau semacamnya, berisik tahu!” grutu lirih
pria senja mengakat sedikit kepalanya dari dasar meja
“ha..ha..ha...
lo kira kita dulu waktu muda gak gitu..”tatap sinis bercapur senang dari Kakek
Lin yang lebih suka dipangil Om Lin itu.
“mereka
dah di sini” seorang pemuda bertanya ke pemudi yang di gandengnya
“kalo
kata nya si uduah, paling di tempat biasa.” Sang pemudi clingak-clinguk begitu
mereka measuki kafe tua di sebrang makam itu
“ah
tu mereka” lambaian tangan sang pemuda pada pemuda lain yang masih
mengeser-geser meja
“aku
ke sana dulu, pesenin aku ya! kamu tahu apa yang aku suka..” lambaian sang
pemudi pada pria pujaannya itu sambil melengan pergi dan betriak girang meminta
sambutan para gadis yang lain,
“hah..
Om Lin yang biasa ya..” menyodorkan sebuah kartu plastik ke meja kasiar tanpa
melepas pandang dari gadis yang mengisi hatinya.
“baru
kelihatan kamu? kalian langeng ya...?” ejek Om Lin sambil menekan beberapa
tombol di mesin kasir tua, dan mengembalikan kartu palastik itu setelah digesek
tentunya beserta selemabr struk ke sang pemuda, pemuda yang penampilanya nampak kelelahan.
“ngobrolnya
tar aja Om Lin gue ke sana dulu” memandang lekat ke pria tua di hadapanya
sambil menunjuk meja di ujung kafe tempat gadisnya dan teman temannya
berkerumun, dia melangkah sambil melirik tipis ke pria yang tersungkur di depan
meja kasir.
“dasar
itu bocah, itu elo tu jama muda..” pria senaja itu memperbaiki posisi duduknya,
menyangga badannya denan sikinya, mukanya suguh tak sedap di pandang
“ha..ha...ha..bisa
aja orang tua satu ini” tawa renyah Om Lin membahanan kembali, meski tak ada
yang mendengarnya kepalanya melirik ke makam dibelang nya tepat di sebrang kafe
yang sudah ia kelola lebih dari 10 tahun itu, tatapan sedih dipelupuk matanya.
“dasar
lo kakek tua lo bela-belain beli ni kafe tua yang ampir abruk cuma biar deket
sama istrimu aja” sindirnya penuh umpat, sambil meneguk botol yang memang
sedari tadi menemaninya.
“eh
tukang mabuk, kau fikir kalau buakan karena teman istriku yang di kubur di
sebelahnya, lo mau dateng tiap hari ke bangunan reot yang nyaris bangkrut ini
hah” Umpat Om Lin tanpa melapas pandang
dari nisan istrinya.
“heh..
ah mereka bertiga dasar...! sapa tu yang satu gue lupa namanya?” mendorong sedikit botol di hadapanya menjauhinya
“si
khel maksudmu? iya di juga di kubur di
sana 8 bulan lau, sayang cuma si Yuu aja
yang gak tahu kemana rimbanya sekarang kudegar dia juga dah di kubur di
kampungnya.. lo kapan nyusul udah gue siapin satu lubang lagi di sampin cewek
lo tu..?” Ujar enteng kakek tua yang juga mulai berbau tanah
“setan
lo, gue masih mau idup seribu tahun lagi masih ada yang harus gue kelarin
dulu..”
“sumpah
tadi lo keren banget ngMC nya di pangung? “puji gadis yang usai menulis menu
menyerahkanya ke pelayan yang kebetulan lewat, matanya masih fokus ke layar HP
dan mengetikan seuatu dengan kedua ibu jarinya
“aduh-duh..”
rintih pemudi yang masih merasakan pijatan lembut dari orang yang katanya bukan
pacarnya itu.
“makanya
di lurusin kakinya” dengan lembut sang pemuda yang datang paling akhir itu
berujar tampa megurangi gerakan tangan di kaki gadis yang ia suka itu
“goe
gak negerti sama kalian bilangnya gak pacaran tapi kelauan kalin ini...?”
pemuda yang lain masih saja mengerutu
“uah
lo fokus aja ama dia!” menunjuk gadis yang masih merapikan penampilanya yang
berantakan karena helam
“iya
kamu juga gak uasah muji aku, kalo lagi chetingan ama dia, muji tapi kok
matanya fokus ke hp” ujar sebal pemudi itu hanya di balas senyuman tanpa
tatapan dari gadis yang utag dengan Hpnya
“jadi
lo berdua dah sejauh mana bro?” tatap si pemuda tukang pijat pada pemuda dan gadis
yang sedang sama-sama salah tingakah itu
“kita
gak tahu, noting hapen bro!”saling tatap dengan gadis cantik dihadapanya dan
menjawab
“Dasar
kunyak, masik kecil udah sok-sokan jatuh cinta, pantes aja dunia makin ancur,
apa kau tak bisa mengusir mereka atau semacamnya, mereka mengganggu pelangan mu
tahu.” pria tua itu malai hilang sabar saat telinganya mulai merasa bising
“eh
dasar tukang mabuk” beralih menatap tajam ke lawan bicaranya”yang mengganggu
pelangan ku itu tukang mabuk kaya lo, lagi pula apa kau tak lihat tempat ini,
mereka itu salah satu langanan ku” Om Lin membela pelangannya
“ini
bos” sang pelayan menyela dan menyerahkan daftar pesanan kepada bosnya
“oh..
cepat kamu buat pesanan ini Jho” ujarnya kepada satu-satunya pelayan di kafe
itu
“heh
kau lihat kunyuk itu, itu kayak kau dan istrimu dulu, gak tahu otaknya
didengkul apa, mau-maunya aja tu bocah jadi babu tu cewek. Kalian berdua sama
tololnya” Mengangkat sedikit jarinya dan
mengarahkanya ke pemuda yang sedang memijit kaki pacarnya
“heh
jaga bicaramu, namanya juga orang jatuh cinta” Om Lin tersenyum kecut sambil
melirik kecil ke figura foto kecil di tepi meja kasirnya, fota dirinya dan sang
istri saat mereka belum menikah dulu, masih sangat muda, sorot mata yang masih
sangat cerah.
“heh..
cinta.. “ dengus sang pria senja melirik figura
yang sama
“kau
lihat mereka, yang cowok dia sudah jadi langananku jauh lebih dulu dari yang
lain, hidupnya berat aku sendiri tak terlalu jelas dengan ceritanya, tapi dari
caranya bercerita kau akan tahu kalau Ia menjalani hidupnya dengan keras,
sementara itu nono manis yang di sana itu yang sedang dipijit oleh tu bocah,
kufikir juga sama getirnya, tak banyak yang ku dengar soal nana itu selain dia
adalah gadis yang berprestasi, tapi aku selalu melihat senyum kepalsuan itu.
Mereka saling melengkapai, dua lidi lebih baik kan dari pada satu, meski
nantinya lidi itu akan patah juga” Om Lin menatap nanar dengan mata tuanya
“halah
katakan itu pada istrimu, aku tak mau dengar bualanmu” dengus pria tua itu
semari menjerembabkan kempali kepalanya ke dasar meja
“kau
lihat dua pasang yang lain itu, yang pria baru pertama kali aku melihatnya,
sepertinya dia yang sering dibicarakan oleh mereka yang katanya disukai oleh
gadis yang tadi masih memakai helam itu. Mirip cerita seseorang saja, bukan kah
begitu?” sindirnya ke pria tua di hadapannya
“heh....”
makin menengelamkan wajahnya ke dasar meja,
“dasar
pak tua, dia sudah lama mati kau masih meratapinya, kau masih merasa bersalah?,
setidaknya kau dengarkan aku sedikit” bentaknya sekeras yang tidak bisa
didengar pengunjung kafe yang lain
“teruskan
saja ceritamu aku mendengarkan”denan kepala masil tertelungkup satu tanganya
melambai memberikan isyarat untuk lenjutkan
“kalau
aku sering menuping pembicaraan mereka sebelumnya, sepertinya sang peia juga
suka pada sang wanita hanya saja dia seperi kau. Lelaki cemen yang gak bisa lepas
dari cinta pertamanya”Om Lin melanjutkan ceritanya
“
lanjutkan-lanjutkan aku tak peduli” sambainya lagi sambil tanpa mengankat
kepala dan terus ter terjerembab
“eh
gimana kabrnya sekarang, kudengar dia sudah setua kita, siapa namanya?” Om Lin
membuka luka lama
“sudahlah”
akhirnya pria tua itu bangkit berdiri dan “ sudahlah aku harus pergi ada
kuburan yang harus aku temui” melengang pergi tanpa pamit atau isyarat
“kenapa
dia Kek Lin? O..ya berapa?” tanya seorang gadis yang masih ke layar HP nya
“bukan
apa-apa. seperti biasa hanya ditambah
bocah laki-laki itu saja “ menunjuk layat, nomilan yang harus sang gadis bayar.
“O...”
menempelkan hapenya ke pemindai pembayaran dan melengang kembali ke sudut
terjauh kafe tersebut
“neng
sudah berapa kali Om bilang pangil Om
saja jangan Kakek” teriak Om Lin sebelum sang gadis semakin jauh
“hehem..”
sutas senyum dilempar ke sang kakek tua di balik meja kasir.
“udah
di bayar?” tanya seorang pemudi yang kakinya sudah enakan
“makanan
kita sudah aku yang bayar tadi” ujar penuh kasih sang pemuda
“hah
apa iya, dah lah ayo pergi?” ujar sang gadis yang baru datang dari meja kasir
itu. Sementara kedua muda-mudi yang lain masih canggung
“sampa
jumpa lagi Kek Lin..” sapanya berpamitan pada sang penjaga mesin kasir
"yow... Om Lin, cabut dulu" sang pemuda mengandeng gadisnya
“iya
trimakasih neng, terimakasih semua” balas kehagatan Om Lin
“kalian
bener bener ngajak makan didepan kuburan” setibanya di luar sang pemuda
pengerutu memecah kecanggungannya denan mengedar kan mata ke makam di sebrang
cafe.
.
. .
“sekarang
apa yang mau kau lakukan?” sang kakek pemabuk kembali
“sudah
nyekarnya? Entah mungkin aku akan menutupnya begitu aku menyusul istriku. Kau
sendiri...?” Om Lin mengedar sunyi ke seisi kafenya dan berakhir di pigura
foto di sudut meja kasirnya
“Aku
? ada hal yang harus ku selesaikan, kuburnya kosong, dia masih belum mati...”
No comments:
Post a Comment