Pernah kah kau merasa sekeras apa pun musik yang kau dengar tapi tak pernah menggerakkan hatimu, meski sangat terasa memekakan telinga, hingga kau sakit karenanya, tapi tak ada satu pun nada yang mencapai mu.
Sekeras apapun suara bass yang kau dengar, sekaras apa pun volume yang kau setel, atau sekeras apa genre musik yang kau pilih, semua itu tak lebih dari suara yang menyakiti telinga.
Saat berada di keramaian, saat dimana semua orang tertawa lepas, saat dimana kau tak ingat atau tak ingin mengingat segala hal, tapi sebaliknya yang kau rasa, semua minuman dan senyuman atau bahkan tawa itu tak pernah mengubah perasaan mu.
Seberapa banyak pesan yang kau tuliskan, seberapa banyak pun itu takakan pernah merubah senyum di wajah mu, hanya kau tulis saja tanpa ekspresi yang dirasa.
Saat dimana kau menuju suatu tempat tapi tak penting arti dari perjalanan itu, yang ada autopilot yang kau aktifkan, entah kapan kau tiba-tiba saja ada di sana.
Saat dimana kau merindukan sesuatu, tapi entah apa, saat dimana kau tak tahu, atau tak mau tahu, saat suara musik yang kau dengar menjadi semakin keras, semakin keras, semakin memekakan telinga, tanpa sadar semu telah kembali ke track awal.
Saat kau tak merasa senang akan keberhasilan, dan tak sedih saat kegagalan, atau tak peduli akan kehidupan, atau mungkin berpikir untuk apa hidup dalam keberpura-puraan, yakin lah suara yang memekakan telinga itu nyata, rasa sakit yang kau rasa itu nyata, dan kau masih bisa merasakan sakit, kau masih bisa merasakan bahwa kau tidak merasakan apa-apa & itu nyata!
Percayalah semua gigitan frustrasi yang kau lakukan ke tangan mu sendiri itu hanya sebuah rasa sakit sesaat, saat kau bangun di esok pagi semu rasa sakit itu hanya mimpi, dunia yang kejam akan memaksa mu untuk kembali hidup, hidup, meski hidup tanpa jiwa, setidaknya hidup kan?
Lalu apa peduli ku dengan semua kelelahan ini, hanya rasa lelah mu saja, aku tak pernah menanggung dosanya, lalu apa peduliku? itu masalah mu.
Apa pun itu lebih baik kau mati saja membusuk dalam kesendirian atau semacamnya, itu terdengar jauh lebih baik bagimu, atau menua bersama kesepian, atau kau pilih berdamai saja dengan kepedihan, lalu apa peduliku? sekalipun kau membusuk di sana secara perlahan tetap saja tak ada senyuman di wajahmu, tetap saja tak ada hal yang kau dapat, lalu apa peduliku?
Saat dimana semua suara itu semakin memekakan telinga. saat dimana kau semakin membusuk perlahan disana, itulah aku yang berdamai dengan kepedihan mu. Andai aku muak pun, aku takakan meninggalkan mu. tak peduli seberapa keras kau menolaknya, tak peduli seberapa keras kau tak peduli, karena aku adalah suara yang memekakan telinga mu.
No comments:
Post a Comment